Jumat, 23 Januari 2015

Alkitab vs Gadget

Sekedar berbagi pengalaman yang saya rasakan. Ada nilai yang saya ambil yang mungkin juga bermanfaat buat teman-teman semua.

Tidak sebuah kebetulan, ketika dalam masa perjalanan tugas saya satu minggu di Palembang, saya mengikuti ibadah warga TNI-AD di Kodam Sriwijaya. Dan kembali bukan sebuah kebetulan, ibadah tersebut dilakukan di Rumah Bapak angkat saya (Kalau di adat batak, ketika seorang wanita masuk dalam keluarga pria, maka si wanita secara otomatis menjadi anak/putri dari Oom si pria).

Yang hadir dalam ibadah ini, usianya variasi, ada yang sudah tua di atas 40 tahuan an, ada yang masih sebaya saya yang masih keluarga muda, ada yang masih lajang (usianya sekitaran 20 tahun mungkin, karena menurut cerita papa saya, baru satu tahun diangkat jadi TNI).

Sepanjang ibadah dari awal sampai akhir, ada saat-saat kita membuka dan membaca alkitab, khususnya ketika sesi kotbah.  Saya tertarik ketika dalam acara ibadah tersebut, tidak ada satu orangpun yang membuka alkitab elektronik seperti kebanyakan orang saat ini, yang dalam setiap ibadah di gereja selalu menggunakan gadget nya. Kebetulan saya bukan penggemar alkitab elektronik, sekalipun saya tetap instal juga di gadget saya. Semua yang hadir dalam ibadah ini, benar-benar membuka alkitab konvensional yang berbentuk buku, bukan alkitab dalam gadget. Dalam hati saya berkata, “alangkah sederhananya hidup mereka ini, saya sepertinya merasakan suasana ibadah seperti di kampung”.

Selesai acara ibadah, mungkin sudah tradisi di lingkungan ini untuk acara kebersamaan, mencicipi hidangan yang telah disediakan oleh tuan rumah. Saya terkejut ketika dalam acara santai ini, mereka membuka gadget mereka masing-masing. “What..???”, saya dari tadi sempat berpikir kalau mereka tidak membuka alkitab di gadget karena mereka tidak punya gadget. Tetapi ternyata yang saya pikirkan salah. “Luar biasa, praise God” dalam hati saya




Sejenak saya merenung, dan membandingkan apa yang saya rasakan di lingkungan saya di jakarta dengan lingkungan yang saya rasakan saat ini di Palembang. Sebagian besar orang yang beribadah ke gereja tidak lagi terlihat membawa alkitab karena sudah digantikan dengan gadget. Saya membandingkan dengan apa yang saya rasakan disini. Saya belajar, bukan karena mereka tidak memiliki gadget sehingga mereka tidak membuka alkitab di gadget yang mereka miliki, tetapi mereka tau menempatkan yang tepat pada tempat dan waktunya, mereka bisa menahan diri dengan kemajuan teknologi yang ada. Luar biasa...

Saya memang masuk dalam golongan orang yang tidak suka dengan penggunaan  alkitab elektronik di ibadah, tetapi bukan berarti saya menolak kemajuan teknologi yang menurut saya ini perkembangan yang sangat membantu. Saya tetap memakai alkitab gadget saya di tempat-tempat yang tidak memungkinkan saya untuk menggunakan alkitab konvensional yang berbentuk buku, misalnya di tempat umum, di kantor, dan juga waktu liburan. Dan dalam kondisi seperti ini, alkitab di gadget sangat membantu saya bisa rutin membaca alkitab.

Mungkin satu pertanyaan penting yang menjadi renungan adalah, “kira-kira seperti apa orang Kristen akan dilihat, ketika beribadah ke rumah ibadah yang suci, tidak lagi membawa alkitab, tetapi sudah digantikan dengan gadget?”.

Semoga menjadi berkat untuk kita semua



_Life by love and to love_
God Bless Us

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Alumni yang Profesional & Berintegritas

Dua minggu lalu, saya dan suami memutuskan untuk mengikuti sebuah seminar alumni yang diselenggarakan oleh PERKANTAS Jakarta. Tidak kebetu...