Sekedar berbagi
pengalaman yang saya rasakan. Ada nilai yang saya ambil yang mungkin juga
bermanfaat buat teman-teman semua.
Tidak sebuah kebetulan, ketika dalam masa perjalanan tugas saya satu minggu di Palembang, saya mengikuti ibadah warga TNI-AD di Kodam Sriwijaya. Dan kembali bukan sebuah kebetulan, ibadah tersebut dilakukan di Rumah Bapak angkat saya (Kalau di adat batak, ketika seorang wanita masuk dalam keluarga pria, maka si wanita secara otomatis menjadi anak/putri dari Oom si pria).
Yang hadir dalam ibadah ini, usianya variasi, ada yang sudah tua di atas 40 tahuan an, ada yang masih sebaya saya yang masih keluarga muda, ada yang masih lajang (usianya sekitaran 20 tahun mungkin, karena menurut cerita papa saya, baru satu tahun diangkat jadi TNI).
Sepanjang ibadah dari awal sampai akhir, ada saat-saat kita membuka dan membaca alkitab, khususnya ketika sesi kotbah. Saya tertarik ketika dalam acara ibadah tersebut, tidak ada satu orangpun yang membuka alkitab elektronik seperti kebanyakan orang saat ini, yang dalam setiap ibadah di gereja selalu menggunakan gadget nya. Kebetulan saya bukan penggemar alkitab elektronik, sekalipun saya tetap instal juga di gadget saya. Semua yang hadir dalam ibadah ini, benar-benar membuka alkitab konvensional yang berbentuk buku, bukan alkitab dalam gadget. Dalam hati saya berkata, “alangkah sederhananya hidup mereka ini, saya sepertinya merasakan suasana ibadah seperti di kampung”.
Selesai acara ibadah, mungkin sudah tradisi di lingkungan ini untuk acara kebersamaan, mencicipi hidangan yang telah disediakan oleh tuan rumah. Saya terkejut ketika dalam acara santai ini, mereka membuka gadget mereka masing-masing. “What..???”, saya dari tadi sempat berpikir kalau mereka tidak membuka alkitab di gadget karena mereka tidak punya gadget. Tetapi ternyata yang saya pikirkan salah. “Luar biasa, praise God” dalam hati saya
Sejenak saya
merenung, dan membandingkan apa yang saya rasakan di lingkungan saya di jakarta
dengan lingkungan yang saya rasakan saat ini di Palembang. Sebagian besar orang
yang beribadah ke gereja tidak lagi terlihat membawa alkitab karena sudah
digantikan dengan gadget. Saya membandingkan dengan apa yang saya rasakan
disini. Saya belajar, bukan karena mereka tidak memiliki gadget sehingga mereka
tidak membuka alkitab di gadget yang mereka miliki, tetapi mereka tau
menempatkan yang tepat pada tempat dan waktunya, mereka bisa menahan diri
dengan kemajuan teknologi yang ada. Luar biasa...
Saya memang
masuk dalam golongan orang yang tidak suka dengan penggunaan alkitab elektronik di ibadah, tetapi bukan
berarti saya menolak kemajuan teknologi yang menurut saya ini perkembangan yang
sangat membantu. Saya tetap memakai alkitab gadget saya di tempat-tempat yang
tidak memungkinkan saya untuk menggunakan alkitab konvensional yang berbentuk
buku, misalnya di tempat umum, di kantor, dan juga waktu liburan. Dan dalam
kondisi seperti ini, alkitab di gadget sangat membantu saya bisa rutin membaca
alkitab.
Mungkin satu
pertanyaan penting yang menjadi renungan adalah, “kira-kira seperti apa orang
Kristen akan dilihat, ketika beribadah ke rumah ibadah yang suci, tidak lagi membawa
alkitab, tetapi sudah digantikan dengan gadget?”.
Semoga menjadi
berkat untuk kita semua
_Life by love
and to love_
God Bless Us

Tidak ada komentar:
Posting Komentar