Dua minggu
lalu, saya dan suami memutuskan untuk mengikuti sebuah seminar alumni yang
diselenggarakan oleh PERKANTAS Jakarta. Tidak kebetulan, pembicara yang akan
memberikan materi saat itu adalah Pak Ruly Simandjuntak, yang namanya sudah
saya dengar dan dijadikan teladan sejak tahun 2009 waktu di Pelayanan Mahasiswa
dulu. Beliau juga adalah mantan seorang karyawan di salah satu Perusahaan BUMN
dulunya.
Bersyukur banyak
hal yang menyentuh hati, jiwa dan raga. Pernyataan yang sangat berkesan pada
saat pembukaan materi, “Tidak cukup menjadi pekerja yang baik dan jujur kalau
kita tidak memberi karya yang berdampak”. Ibarat dalam sebuah permainan sepak
bola, gol tidak akan pernah dicetak jika tim hanya berperan sebagai pemain
bertahan. Tetapi harus ada tim yang berperan sebagai penyerang yang mencetak
gol. Inilah yang disebut dengan Profesional. Dan sebaliknya, kita tidak bisa
hanya berperan sebagai tim penyerang tanpa tim pemain bertahan, karena ketika ada
serangan balik maka kita akan kalah. Inilah yang disebut dengan integritas.
Jujur, sebagai
seorang pekerja di salah satu perusahaan negara, pernyataan ini membuatku
terpukul. Terpukul karena standar menjadi profesional tidak cukup dengan
bekerja baik, rajin, benar, jujur dan taat sesuai dengan kaidah perusahaan saja.
Tetapi profesional menuntut untuk menghasilkan karya bagi kemajuan masyarakat.
Ini menjadi sebuah tantangan. Tetapi saya menyadari bahwa untuk itulah kita
dipanggil bekerja. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang,
supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga
(Mat 5:16)”.
Menjadi seorang
yang profesional berarti menjadi seseorang yang terus berusaha menghasilkan
karya yang terbaik, memiliki semangat melayani yang luar biasa, dapat dipercaya
melakukan tugas dan tanggungjawab.
Kita bisa
menjadi seorang profesional ketika kita berperan di suatu bidang yang
memang menjadi panggilan kita, dan bukan sekedar “ikut-ikutan”. Ikut-ikutan melamar
pekerjaan ke perusahaan A ketika banyak orang yang melamar pekerjaan ke
Perusahaan A. Dalam seminar ini secara pribadi, saya diingatkan kembali untuk benar-benar menilai
bakat dan kemampuan dengan cermat, belajar dan berlatih untuk fokus pada bidang
tertentu dan tidak meluas, menangkap visi dari situasi dan kondisi lingkungan
masyarakat dan perkembangan.
Mungkin ada
banyak orang yang takut untuk berpindah/resign dari pekerjaan yang saat ini dia
geluti walaupun pekerjaan itu bukanlah passion yang dimilikinya. Namun, profesional
menekankan untuk tidak takut ambil
keputusan untuk beralih ke suatu bidang pekerjaan lain ketika kita menyadari
bahwa bakat dan kemampuan kita bukan di bidang yang saat ini kita geluti.
Terlepas pekerjaan dan penghasilan yang kita peroleh menjadi zona nyaman bagi
kita, tetapi jadilah seorang pribadi yang menggunakan daya dan upaya yang
sesuai, karena perkembangan dunia menuntut orang yang profesional.
Menjadi seorang
yang profesional tidak pernah terlepas dari seorang pribadi yang berintegritas
ketika kita berbicara akan sebuah perubahan bangsa, Karena integritas adalah
kunci memperbaiki kondisi bangsa yang sedang terpuruk saat ini. Kurangnya
integritas dalam kehidupan bermasyarakat dalam bangsa kita, membuat bangsa ini
sulit maju di tengah-tengah bangsa-bangsa di dunia.
Saya kembali
diingatkan bawah seorang pekerja yang berintegritas adalah mereka yang
mendahulukan kebenaran dalam hidup, mereka yang bertanggungjawab akan
tindakannya, mereka yang melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati, mereka
yang berlaku jujur, mereka yang memiliki keharmonisan hidup dalam keluarga,
pekerjaan dan pelayanan, mereka yang memiliki keseimbangan hidup pribadi dalam
roh, jiwa dan tubuh, mereka yang bekerja sesuai panggilan hidupnya, mereka yang
rela berkorban/menderita untuk suatu misi yang Mulia.
Ada banyak hal
yang bisa kita lakukan untuk menjadi seorang yang berintegritas, kita bisa
mulai dengan setia dalam perkara perkara kecil, belajar disiplin dalam segaala
hal, baik waktu, kesehaatan, keuangan, keluarga juga pelayanan, belajar
menghadapi dan mengatasi tantangan hidup dengan tidak gentar, dan tidak lupa
yang paling penting adalah melibatkan diri dalam pelayanan, karena dengan
demikianlah kita akan terus belajar bergantung kepada sang pemiliki Hikmat dan
Kepintaran.
Saya sungguh
bersyukur boleh mengikuti seminar ini, karena sebagai seorang alumni yang
bekerja, kita perlu diisi akan banyak hal, yang paling tidak mengingatkan kita
untuk tetap berjalan dalam rel nya Allah.
Bekerja untuk
uang, untuk kepuasan, untuk mencari ilmu, akan membuat kita frustasi, karena
semuanya itu tidak akan ada habisnya. Tetapi ketika kita bekerja untuk dipakai
Tuhan untuk menyatakan karyaNya maka kita akan bahagia.
“Kamu adalah
garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak
ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”
_Life by love
and to love_
God Bless

Tidak ada komentar:
Posting Komentar