Banyak hal dalam hidup ini yang bisa kita jadikan cermin pembelajaran. Dan saya yakin bukan sebuah kebetulan Tuhan mengijinkan kita untuk berada ataupun mungkin jatuh dalam sebuah kesalahan (Bukan berarti saya mentolerir kita jatuh kepada sebuah kesalahan).
Tulisan saya kali
ini membahas tentang uang yang merupakan kebutuhan pokok setiap orang. Karena
tanpa uang kita tidak bisa melakukan apa pun dan banyak orang yang berani
melakukan apa saja bahkan mempertaruhkan dirinya untuk uang.
Dalam tulisan ini
saya hanya ingin menceritakan bagaimana saya mendengarkan kata hati dan
kehendak Tuhan.
Beberapa bulan
terakhir ini, saya dan suami sedang memikirkan bisnis alternatif untuk menambah
penghasilan, karena banyak hal yang harus kami benahi dari sisi keuangan
keluarga kami.
Suatu hari, saya
melihat postingan teman saya yang detailnya adalah bonus yang diterimanya di
hari itu. Keesokan harinya, saya melihat postingan yang sama dengan jumlah
bonus yang lebih besar. Demikian juga hari hari berikutnya, kalau ga salah
sampai 1 minggu berikutnya. Siapa yang ga penasaran sih. Akhirnya dengan rasa
penasaran saya bbm dia dan tanya-tanya tentang bisnisnya. Saya pelajari,
awalnya menurut saya ga masalah sih, karena lebih kepada pemasaran emas, dimana
setiap kita mengajak orang membeli emas disana, kita mendapat komisi 500 ribu dari 1 orang.
Setelah 1 bulan,
saya berniat untuk bergabung dengan bisnis tersebut. Tapi sebelum saya
bergabung, diingatin oleh suami saya, sampai waktu itu saya tertunda 1 hari
untuk mendaftar karena suami saya bertanya.
“yakin mau
bergabung? Ini MLM loh. Saya kenal kamu bangat, tipe orang yang paling ga bisa
melakukan suatu hal yang dianggap banyak orang salah.”
Dengan yakin, saya
jawab “kok ga yakin? Emang apa salahnya sih jalanin bisnis MLM? Apa bedanya denga
orang-orang yang jadi agen rumah, mobil, dll, yang mana setiap mereka membawa
pembeli, mereka mendapat komisi? Ini kan sistemnya saja.”
“Okaylah, saya
ingatin saja, memang sih di alkitab ga ada dinyatakan ini salah atau benar,
saya juga masih pengen belajar tentang sistem bisnis nya MLM”
Dan akhirnya saya
bergabung. Dua minggu sejak bergabung, saya mendapat bonusnya, dan dengan cara
yang sama yang dilakukan oleh teman saya, saya langsung upload di sosmed.
Senengnya ga
ketulungan, karena banyak yang penasaran. Dan salah seorang yang penasaran
tadi, akhirnya mengingatkanku bahwa bisnis itu adalah bisnis yang salah,
berskema ponzi, dan tidak legal.
Dalam waktu yang sama, saya klarifikasi satu
persatu, dari legalitas perusahaan sampai kepada skema ponzi yang dimaksud.
Malam harinya, saya ceritakan kepada suami,
kalau saya baru saja diingatin tentang bisnis yang sedang kita jalani bahwa
bisnis ini tidak baik dan berskema ponzi. Akhirnya kita berdiskusi,
“Hmmmm, dimana letak salahnya katanya? “
“Inikan berskema ponzi, artinya pihak yang di
atas lebih diuntungkan sementara pihak yang di bawah yang menjadi kaki-kakinya
dirugikan”
“Loh, apa bedanya dengan perusahaan yah, kan
bos kita yang sudah jauh di atas kita juga sekarang kerjaannya tinggal
ongkang-ongkang kaki dan ttd, yang ngerjakan kan bawahannya”
“Iya ya ayah, trus kalau seperti grosir-grosir itu, dia kan juga punya agen
yah kan ayah untuk menyebarkan produknya”
“Atau begini aja deh, kita browsing dulu
artikel-artikel yang berkaitan dengan itu”
Akhirnya kita sepakat browsing artikel, dan
kita menemukan artikel yang kebetulan banyak diungkapkan di www.wabina.org seperti berikut :
- MLM bukan pyramid?
- MLM = Menipu Lewat Menjual
- RRC melarang MLM
- MLM yang resmi
a. Menjual produk yang bersaing dengan produk sejenis di pasar baik secara
mutu maupun harga
b. Produk juga dijual kepada umum (
di USA ada peraturan yang menentukan penjualan 30% kepada umum, ini untuk
menunjukkan kualitas mutu dan harga secara bersaing dan distributor tidak
termotivasi membeli barang yang tidak
diperlukan demi mengejar komisi)
Selesai membaca artikel-artikel itu, hati kami
tersentuh dan membuat kami kembali merenung, tapi jujur kita masih membenarkan
diri nih.
“Brarti disini ga ada salahnya kan yah? Hanya
kepada motivasinya yah ayah?”
“Iyah sih. Kembali ke motivasi kita
masing-masing. Sekarang, coba tanya hati kita, apa iya kita jalanin bisnis ini
mengarah kepada supaya kita bisa mendapat uang semata?, jangan pada akhirnya
kita hanya bermain-main dengan logika dan membenarkan semuanya dengan logika
yang ada”
Sehari kemudian, kembali sebelum beristirahat,
kita bahas tentang MLM.
“Ayah, iya yah.. Kenapa kita harus jalanin
bisnis ini? Kan memang karena duit kan? Kalau dipikir-pikir, sampai kapan kita
akan puas dengan uang yang kita miliki?”
“Nah itu dia yang ayah bilang dari awal,
sangat susah untuk mendeteksinya”
“Kalau dipikir-pikir yah, benar juga,
darimanalah si PT ini dapat keuntungan yah, baru saja daftarin anggota baru
sudah dapat bous 500 ribu”
“Yah kan jelas sebenarnya Bun, yah dari duit
yang 3,6 juta itu, kan ada voucer 2,5 juta, itulah diputar-putarnya semua”
“ouwww...iyah juga yah. Tapi kan katanya
keuntungannya dapat dari penjualan emas yang dari voucer”. Tapi dalam hati,
tapi iyah juga yah, kan baru daftar hari ini, kita besoknya sudah dapat bonus,
belum lagi voucernya digunakan.
Setelah pembahasan itu, jujur aku sebenarnya
tidak ada semangat lagi untuk jalanin bisnis ini.
Terkadang, ada
waktu dimana saya juga bercerita ke orang-orang tentang apa salahnya bisnis
MLM. Orang yang saya pilih untuk diskusi adalah orang-orang yang semasa
lajangnya aktif di pelayanan. Secara garis besar, mereka menyatakan bahwa MLM
itu bukan bisnis yang salah, tetapi merupakan strategi pasar. Tapi jujur, dalam
hati saya jelas-jelas sudah mengatakan MLM ini salah, tapi yang namanya manusia
yah, selalu mencari pembenaran diri..hahahaha
Semakin saya
mencoba untuk mulai memperkenalkan bisnis ini ke orang-orang, disaat itu juga
hati saya berkata “ Ayo juju, berhentilah. Mosok iyah sih ada bisnis yang
dengan gampangnya bisa mendapatkan komisi sebesar itu?” Teringat kembali dengan
pelajaran dulu-dulu, “Bekerja bukan hanya untuk uang walaupun uang itu
dibutuhkan. Bekerja adalah cara kita untuk mewujudnyatakan siapa Allah kita
melalui karya-karya kita”. “Kalau dengan mengajak orang terlibat dalam bisnis
yang dengan cepat menghasilkan uang, itu artinya saya mewujudnyatakan bahwa
Allah yang saya sembah adalah Allah yang hanya mengejar uang”.
“Tidak..tidak..tidak..Allah yang saya sembah adalah Allah yang penuh kasih,
Allah yang mengajarkan tentang arti dan makna hidup, dan itu bukan karena uang.
Dan jika pada akhirnya orang-orang meletakkan ketenangannya di uang, dimanakah
letak Allah dalam kehidupan kita”. Begitu banyak hal pernyataan-pernyataan yang
timbul dalam benak saya.
Sampai akhirnya,
sebulan kemudian saya menyerah dan benar-benar tidak akan memikirkan bisnis ini
lagi. Tapi, saya mulai berpikir suatu alasan yang bisa diterima akal sehat,
kenapa bisnis ini tidak baik (bukan berarti saya mencari-cari kesalahan bisnis
ini yah). Karena, ada banyak orang yang terlibat dalam bisnis ini, ada yang katanya
sudah bertumbuh iman, dan ada juga orang awam yang belum tau apa itu
pertumbuhan iman.
Salah satu hal yang
tidak masuk akal saya dalam bisnis ini adalah penggunaan voucer. Kita diijinkan
memakai 1 voucer senilai 100.000 untuk 4 keping emas batangan antam 2 gram.
Saya coba cek harga emas antam hari ini, 27 April 2015 di web antam untuk emas
batangan @2gr adalah Rp. 1.050.000, dan sementara di PT ini adalah Rp.
1.150.000. Saya mengikuti aturan di PT, untuk menggunakan 1 voucer, saya harus
membeli 4 keping emas batangan @2gr, berarti 4 x Rp.1.150.000 adalah Rp.
4.600.000 . Dan ketika saya bandingkan dengan harga emas di Antam, untuk emas
batangan @2 gr 4 keping, saya cukup membayar 4.200.000. Artinya saya rugi 400
ribu setiap saya membeli emas dengan menggunakan voucer di tempat mereka.
Alangkah berdosanya saya, ketika saya mengajak puluhan orang untuk membeli emas
yang harganya jauh lebih mahal. Dan bagi saya ini adalah pembodohan.
Teman-teman
pembaca, apa yang saya mau ceritakan disini bukan bermaksud buruk, tetapi
alangkah baiknya kita menggunakan akal dan pikiran kita, dengan hitung-hitungan
yang saya telah lakukan. Betapa banyaknya orang yang akan rugi secara finansial
hanya karena kita.
Khusus bagi
teman-teman yang mengatakan dirinya sudah berada pada pertumbuhan rohani/iman,
mari dengarkan kata hatimu, Tuhan itu menegor kita, mengingatkan kita dengan
cara yang sangat indah. Saya akui, saya lemah ketika akhirnya saya terjatuh dan
tergoda dalam bisnis ini. Tetapi, syukur kepada Tuhan, saya masih diingatkan.
Tak ada kata terlambat. Sebelum semakin banyak orang yang kita rekrut untuk
rugi, mari ambil keputusan yang tepat.
_Life by love and to
love_
God bless us