Senin, 27 April 2015

Belajar Mencukupkan Diri


Banyak hal dalam hidup ini yang bisa kita jadikan cermin pembelajaran. Dan saya yakin bukan sebuah kebetulan Tuhan mengijinkan kita untuk berada ataupun mungkin jatuh dalam sebuah kesalahan (Bukan berarti saya mentolerir kita jatuh kepada sebuah kesalahan).

Tulisan saya kali ini membahas tentang uang yang merupakan kebutuhan pokok setiap orang. Karena tanpa uang kita tidak bisa melakukan apa pun dan banyak orang yang berani melakukan apa saja bahkan mempertaruhkan dirinya untuk uang.

Dalam tulisan ini saya hanya ingin menceritakan bagaimana saya mendengarkan kata hati dan kehendak Tuhan.

Beberapa bulan terakhir ini, saya dan suami sedang memikirkan bisnis alternatif untuk menambah penghasilan, karena banyak hal yang harus kami benahi dari sisi keuangan keluarga kami.

Suatu hari, saya melihat postingan teman saya yang detailnya adalah bonus yang diterimanya di hari itu. Keesokan harinya, saya melihat postingan yang sama dengan jumlah bonus yang lebih besar. Demikian juga hari hari berikutnya, kalau ga salah sampai 1 minggu berikutnya. Siapa yang ga penasaran sih. Akhirnya dengan rasa penasaran saya bbm dia dan tanya-tanya tentang bisnisnya. Saya pelajari, awalnya menurut saya ga masalah sih, karena lebih kepada pemasaran emas, dimana setiap kita mengajak orang membeli emas disana, kita mendapat komisi 500 ribu dari 1 orang.

Setelah 1 bulan, saya berniat untuk bergabung dengan bisnis tersebut. Tapi sebelum saya bergabung, diingatin oleh suami saya, sampai waktu itu saya tertunda 1 hari untuk mendaftar karena suami saya bertanya.
“yakin mau bergabung? Ini MLM loh. Saya kenal kamu bangat, tipe orang yang paling ga bisa melakukan suatu hal yang dianggap banyak orang salah.”
Dengan yakin, saya jawab “kok ga yakin? Emang apa salahnya sih  jalanin bisnis MLM? Apa bedanya denga orang-orang yang jadi agen rumah, mobil, dll, yang mana setiap mereka membawa pembeli, mereka mendapat komisi? Ini kan sistemnya saja.”
“Okaylah, saya ingatin saja, memang sih di alkitab ga ada dinyatakan ini salah atau benar, saya juga masih pengen belajar tentang sistem bisnis nya MLM”

Dan akhirnya saya bergabung. Dua minggu sejak bergabung, saya mendapat bonusnya, dan dengan cara yang sama yang dilakukan oleh teman saya, saya langsung upload di sosmed.
Senengnya ga ketulungan, karena banyak yang penasaran. Dan salah seorang yang penasaran tadi, akhirnya mengingatkanku bahwa bisnis itu adalah bisnis yang salah, berskema ponzi, dan tidak legal.
Dalam waktu yang sama, saya klarifikasi satu persatu, dari legalitas perusahaan sampai kepada skema ponzi yang dimaksud.

Malam harinya, saya ceritakan kepada suami, kalau saya baru saja diingatin tentang bisnis yang sedang kita jalani bahwa bisnis ini tidak baik dan berskema ponzi. Akhirnya kita berdiskusi,
“Hmmmm, dimana letak salahnya katanya? “
“Inikan berskema ponzi, artinya pihak yang di atas lebih diuntungkan sementara pihak yang di bawah yang menjadi kaki-kakinya dirugikan”
“Loh, apa bedanya dengan perusahaan yah, kan bos kita yang sudah jauh di atas kita juga sekarang kerjaannya tinggal ongkang-ongkang kaki dan ttd, yang ngerjakan kan bawahannya”
“Iya ya ayah, trus kalau seperti  grosir-grosir itu, dia kan juga punya agen yah kan ayah untuk menyebarkan produknya”
“Atau begini aja deh, kita browsing dulu artikel-artikel yang berkaitan dengan itu”
Akhirnya kita sepakat browsing artikel, dan kita menemukan artikel yang kebetulan banyak diungkapkan di www.wabina.org seperti berikut :
  1. MLM bukan pyramid?
  2. MLM = Menipu Lewat Menjual
  3. RRC melarang MLM
  4. MLM yang resmi
Yang menarik dalam artikel ini,jikalaupun seorang kristiani tergiur dengan MLM, hanya jika:
a.       Menjual produk yang bersaing dengan produk sejenis di pasar baik secara mutu maupun harga
b.      Produk juga dijual kepada umum  ( di USA ada peraturan yang menentukan penjualan 30% kepada umum, ini untuk menunjukkan kualitas mutu dan harga secara bersaing dan distributor tidak termotivasi  membeli barang yang tidak diperlukan demi mengejar komisi) 

Selesai membaca artikel-artikel itu, hati kami tersentuh dan membuat kami kembali merenung, tapi jujur kita masih membenarkan diri nih.
“Brarti disini ga ada salahnya kan yah? Hanya kepada motivasinya yah ayah?”
“Iyah sih. Kembali ke motivasi kita masing-masing. Sekarang, coba tanya hati kita, apa iya kita jalanin bisnis ini mengarah kepada supaya kita bisa mendapat uang semata?, jangan pada akhirnya kita hanya bermain-main dengan logika dan membenarkan semuanya dengan logika yang ada”
Sehari kemudian, kembali sebelum beristirahat, kita bahas tentang MLM.
“Ayah, iya yah.. Kenapa kita harus jalanin bisnis ini? Kan memang karena duit kan? Kalau dipikir-pikir, sampai kapan kita akan puas dengan uang yang kita miliki?”
“Nah itu dia yang ayah bilang dari awal, sangat susah untuk mendeteksinya”
“Kalau dipikir-pikir yah, benar juga, darimanalah si PT ini dapat keuntungan yah, baru saja daftarin anggota baru sudah dapat bous 500 ribu”
“Yah kan jelas sebenarnya Bun, yah dari duit yang 3,6 juta itu, kan ada voucer 2,5 juta, itulah diputar-putarnya semua”
“ouwww...iyah juga yah. Tapi kan katanya keuntungannya dapat dari penjualan emas yang dari voucer”. Tapi dalam hati, tapi iyah juga yah, kan baru daftar hari ini, kita besoknya sudah dapat bonus, belum lagi voucernya digunakan.

Setelah pembahasan itu, jujur aku sebenarnya tidak ada semangat lagi untuk jalanin bisnis ini.
Terkadang, ada waktu dimana saya juga bercerita ke orang-orang tentang apa salahnya bisnis MLM. Orang yang saya pilih untuk diskusi adalah orang-orang yang semasa lajangnya aktif di pelayanan. Secara garis besar, mereka menyatakan bahwa MLM itu bukan bisnis yang salah, tetapi merupakan strategi pasar. Tapi jujur, dalam hati saya jelas-jelas sudah mengatakan MLM ini salah, tapi yang namanya manusia yah, selalu mencari pembenaran diri..hahahaha

Semakin saya mencoba untuk mulai memperkenalkan bisnis ini ke orang-orang, disaat itu juga hati saya berkata “ Ayo juju, berhentilah. Mosok iyah sih ada bisnis yang dengan gampangnya bisa mendapatkan komisi sebesar itu?” Teringat kembali dengan pelajaran dulu-dulu, “Bekerja bukan hanya untuk uang walaupun uang itu dibutuhkan. Bekerja adalah cara kita untuk mewujudnyatakan siapa Allah kita melalui karya-karya kita”. “Kalau dengan mengajak orang terlibat dalam bisnis yang dengan cepat menghasilkan uang, itu artinya saya mewujudnyatakan bahwa Allah yang saya sembah adalah Allah yang hanya mengejar uang”. “Tidak..tidak..tidak..Allah yang saya sembah adalah Allah yang penuh kasih, Allah yang mengajarkan tentang arti dan makna hidup, dan itu bukan karena uang. Dan jika pada akhirnya orang-orang meletakkan ketenangannya di uang, dimanakah letak Allah dalam kehidupan kita”. Begitu banyak hal pernyataan-pernyataan yang timbul dalam benak saya.

Sampai akhirnya, sebulan kemudian saya menyerah dan benar-benar tidak akan memikirkan bisnis ini lagi. Tapi, saya mulai berpikir suatu alasan yang bisa diterima akal sehat, kenapa bisnis ini tidak baik (bukan berarti saya mencari-cari kesalahan bisnis ini yah). Karena, ada banyak orang yang terlibat dalam bisnis ini, ada yang katanya sudah bertumbuh iman, dan ada juga orang awam yang belum tau apa itu pertumbuhan iman.

Salah satu hal yang tidak masuk akal saya dalam bisnis ini adalah penggunaan voucer. Kita diijinkan memakai 1 voucer senilai 100.000 untuk 4 keping emas batangan antam 2 gram. Saya coba cek harga emas antam hari ini, 27 April 2015 di web antam untuk emas batangan @2gr adalah Rp. 1.050.000, dan sementara di PT ini adalah Rp. 1.150.000. Saya mengikuti aturan di PT, untuk menggunakan 1 voucer, saya harus membeli 4 keping emas batangan @2gr, berarti 4 x Rp.1.150.000 adalah Rp. 4.600.000 . Dan ketika saya bandingkan dengan harga emas di Antam, untuk emas batangan @2 gr 4 keping, saya cukup membayar 4.200.000. Artinya saya rugi 400 ribu setiap saya membeli emas dengan menggunakan voucer di tempat mereka. Alangkah berdosanya saya, ketika saya mengajak puluhan orang untuk membeli emas yang harganya jauh lebih mahal. Dan bagi saya ini adalah pembodohan.

Teman-teman pembaca, apa yang saya mau ceritakan disini bukan bermaksud buruk, tetapi alangkah baiknya kita menggunakan akal dan pikiran kita, dengan hitung-hitungan yang saya telah lakukan. Betapa banyaknya orang yang akan rugi secara finansial hanya karena kita.

Khusus bagi teman-teman yang mengatakan dirinya sudah berada pada pertumbuhan rohani/iman, mari dengarkan kata hatimu, Tuhan itu menegor kita, mengingatkan kita dengan cara yang sangat indah. Saya akui, saya lemah ketika akhirnya saya terjatuh dan tergoda dalam bisnis ini. Tetapi, syukur kepada Tuhan, saya masih diingatkan. Tak ada kata terlambat. Sebelum semakin banyak orang yang kita rekrut untuk rugi, mari ambil keputusan yang tepat.

_Life by love and to love_
God bless us

Alumni yang Profesional & Berintegritas

Dua minggu lalu, saya dan suami memutuskan untuk mengikuti sebuah seminar alumni yang diselenggarakan oleh PERKANTAS Jakarta. Tidak kebetu...