Sabtu, 17 Maret 2018

Alumni yang Profesional & Berintegritas


Dua minggu lalu, saya dan suami memutuskan untuk mengikuti sebuah seminar alumni yang diselenggarakan oleh PERKANTAS Jakarta. Tidak kebetulan, pembicara yang akan memberikan materi saat itu adalah Pak Ruly Simandjuntak, yang namanya sudah saya dengar dan dijadikan teladan sejak tahun 2009 waktu di Pelayanan Mahasiswa dulu. Beliau juga adalah mantan seorang karyawan di salah satu Perusahaan BUMN dulunya.


Bersyukur banyak hal yang menyentuh hati, jiwa dan raga. Pernyataan yang sangat berkesan pada saat pembukaan materi, “Tidak cukup menjadi pekerja yang baik dan jujur kalau kita tidak memberi karya yang berdampak”. Ibarat dalam sebuah permainan sepak bola, gol tidak akan pernah dicetak jika tim hanya berperan sebagai pemain bertahan. Tetapi harus ada tim yang berperan sebagai penyerang yang mencetak gol. Inilah yang disebut dengan Profesional. Dan sebaliknya, kita tidak bisa hanya berperan sebagai tim penyerang tanpa tim pemain bertahan, karena ketika ada serangan balik maka kita akan kalah. Inilah yang disebut dengan integritas.

Jujur, sebagai seorang pekerja di salah satu perusahaan negara, pernyataan ini membuatku terpukul. Terpukul karena standar menjadi profesional tidak cukup dengan bekerja baik, rajin, benar, jujur dan taat sesuai dengan kaidah perusahaan saja. Tetapi profesional menuntut untuk menghasilkan karya bagi kemajuan masyarakat. Ini menjadi sebuah tantangan. Tetapi saya menyadari bahwa untuk itulah kita dipanggil bekerja. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga (Mat 5:16)”.

Menjadi seorang yang profesional berarti menjadi seseorang yang terus berusaha menghasilkan karya yang terbaik, memiliki semangat melayani yang luar biasa, dapat dipercaya melakukan tugas dan tanggungjawab.

Kita bisa menjadi seorang profesional ketika kita berperan di suatu bidang yang memang menjadi panggilan kita, dan bukan sekedar “ikut-ikutan”. Ikut-ikutan melamar pekerjaan ke perusahaan A ketika banyak orang yang melamar pekerjaan ke Perusahaan A. Dalam seminar ini secara pribadi, saya diingatkan kembali untuk benar-benar menilai bakat dan kemampuan dengan cermat, belajar dan berlatih untuk fokus pada bidang tertentu dan tidak meluas, menangkap visi dari situasi dan kondisi lingkungan masyarakat dan perkembangan.

Mungkin ada banyak orang yang takut untuk berpindah/resign dari pekerjaan yang saat ini dia geluti walaupun pekerjaan itu bukanlah passion yang dimilikinya. Namun, profesional menekankan untuk tidak  takut ambil keputusan untuk beralih ke suatu bidang pekerjaan lain ketika kita menyadari bahwa bakat dan kemampuan kita bukan di bidang yang saat ini kita geluti. Terlepas pekerjaan dan penghasilan yang kita peroleh menjadi zona nyaman bagi kita, tetapi jadilah seorang pribadi yang menggunakan daya dan upaya yang sesuai, karena perkembangan dunia menuntut orang yang profesional.

Menjadi seorang yang profesional tidak pernah terlepas dari seorang pribadi yang berintegritas ketika kita berbicara akan sebuah perubahan bangsa, Karena integritas adalah kunci memperbaiki kondisi bangsa yang sedang terpuruk saat ini. Kurangnya integritas dalam kehidupan bermasyarakat dalam bangsa kita, membuat bangsa ini sulit maju di tengah-tengah bangsa-bangsa di dunia.

Saya kembali diingatkan bawah seorang pekerja yang berintegritas adalah mereka yang mendahulukan kebenaran dalam hidup, mereka yang bertanggungjawab akan tindakannya, mereka yang melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati, mereka yang berlaku jujur, mereka yang memiliki keharmonisan hidup dalam keluarga, pekerjaan dan pelayanan, mereka yang memiliki keseimbangan hidup pribadi dalam roh, jiwa dan tubuh, mereka yang bekerja sesuai panggilan hidupnya, mereka yang rela berkorban/menderita untuk suatu misi yang Mulia.

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjadi seorang yang berintegritas, kita bisa mulai dengan setia dalam perkara perkara kecil, belajar disiplin dalam segaala hal, baik waktu, kesehaatan, keuangan, keluarga juga pelayanan, belajar menghadapi dan mengatasi tantangan hidup dengan tidak gentar, dan tidak lupa yang paling penting adalah melibatkan diri dalam pelayanan, karena dengan demikianlah kita akan terus belajar bergantung kepada sang pemiliki Hikmat dan Kepintaran.
Saya sungguh bersyukur boleh mengikuti seminar ini, karena sebagai seorang alumni yang bekerja, kita perlu diisi akan banyak hal, yang paling tidak mengingatkan kita untuk tetap berjalan dalam rel nya Allah.

Bekerja untuk uang, untuk kepuasan, untuk mencari ilmu, akan membuat kita frustasi, karena semuanya itu tidak akan ada habisnya. Tetapi ketika kita bekerja untuk dipakai Tuhan untuk menyatakan karyaNya maka kita akan bahagia.

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”

_Life by love and to love_
God Bless

Jumat, 02 Maret 2018

Memilih Sekolah Perdana Buat Bella


Tahun ini, anak perempuan saya, Bella sudah berusia 4 tahun. Usia yang kebanyakan orang tua sudah memberangkatkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan. Sebenarnya pada saat tahun ajaran baru nanti, Bella masih 4 tahun 5 bulan. Sangat dilemma rasanya untuk mendaftarkannya ke sekolah PG/TK, mengingat begitu banykanya informasi dan persyaratan bahwa usia anak memasuki Sekolah Dasar (SD) nantinya adalah 7 tahun. Jadi, kalau dihitung mundur, seorang anak memasuki TK A minimal di usia 5 tahun.

Semakin aku membaca artikel tetang usia anak sekolah, semakin hatiku bimbang. Di satu sisi, aku adalah tipe ibu yang cepat terkagum-kagum ketika melihat anak yang seusia Bella sudah bisa banyak hal. Tapi di satu sisi, aku mengingat saran dari para ahli psikologi, agar anak jangan masuk sekolah terlalu dini karena usia anak-anak adalah usia untuk bermain-main.

Akhirnya, aku putuskan share dengan beberapa teman yang anaknya seusia dengan Bella. Dan dengan berbagai hal dan masukan, akhirnya aku putuskan kalau Bella akan memasuki TK A di usia 4 tahun 5 bulan, artinya Bella akan memasuki dunia pendidikan Sekolah Dasar pada usia 6 tahun 5 bulan nantinya.

Setelah sampai kepada keputusan akan memasukkan Bella ke TK A, ternyata bukan hal yang mudah untuk memilih sekolah yang benar-benar sesuai dengan perkembangan anak-anak. Ada beberapa hal yang aku pertimbangkan, antara lain:
  1. Sekolah/TK yang tidak terlalu menuntuk akademis (belajar huruf, belajar baca, atau apalh itu)
  2. Sekolah/TK yang bisa membuatnya meningkatkan keimanan dan pengetahuannya tentang agamanya
  3. Sekolah/TK yang memiliki tenaga pengajar yang sabar, perduli dan membimbing
Bukan hal yang mudah ternyata..hahahha

Yang pertama yang saya lakukan adalah dengan membuat daftar list sekolah/TK yang terdekat dan saat itu ada 3 sekolah dalam List-ku. Yang pertama TK Boncel di daerah Lenteng Agung, TK Happy Holy Kids  (HHK) Gandul, dan TK Happy Holy Kids (HHK) Kamboja.

Yang pertama, untuk TK Boncel, aku belum sempat survey ke tempat, tapi secara jarak, sekolah ini adalah sekolah yang paling dekat dengan rumah kami. Tapi, saat aku mau survey ke tempat, saya dapat saran dari istri Om saya saat itu, “kalau bisa jangan sekolah yang Katolik, kalau bisa sekolah protestan saja yang sesuai dengan agama kita”, dan beliu menyarankan salah satunya Sekolah HHK. Katolik dan protestan sebenarnya tidak jauh beda sih, tapi sedikit berpikir-pikir, dalam hati, “benar juga yah, toh tujuannya Bella aku antarkan ke TK adalah untuk semakin mengenal lingkungan dan bersosial”. Harapannya dalam bersosial dia mendapat tuntunan keimanan yang sepadan.

Akhirnya aku putuskan untuk mencoret TK Boncel dalam listku. Akhirnya aku fokus dengan HHK. Kebetulan juga di gereja ada teman yang anaknya berada di TK A HHK Kamboja, dan setelah bercerita banyak hal, dari sisi beliau, sekolah ini termasuk dalam kategori yang bagus, memiliki guru-guru yang baik dan peduli.

Karena dalam listku ada 2 HHK, akhirnya aku putuskan untuk survey ke HHK yang paling dekat dengan rumah. Aku putuskan untuk survey ke HHK Gandul. Pada saat saya survey, ternyata HHK yang saya tuju saat itu sudah pindah dan untungnya kebetulan ada nomor kontak yang dibuat di spanduk di gedung lama, dan akupun menulusuri tempat HHK Gandul yang baru yang saat itu berpindah ke Pangkalan Jati.

Setelah tiba di gedung HHK yang baru, aku coba cek googlemap lagi, ternyata jaraknya ke rumah berubah, yang tadinya cuma 4 km, sekarang jadi 8,8 km. Satu sisi, positifnya, HHK Gandul ada jalur transportasi umum dari depan rumah. Tapi ketika aku perhatikan dengan seksama posisi HHK Gandul, berada di sebuah rumah/gedung yang persis di depan jalan raya, akhirnya aku urungkan untuk masuk survey. Karena dari segi tempat bagiku agak kurang nyaman persis di depan jalan raya.

Akhirnya aku survey ke HHK Kamboja. Berada di lingkungan sekolah ini, rasanya lega. Memiliki gedung yang nyaman (kebetulan HHK Kamboja juga ada sekolah tingkat SD), lapangan yang sangat luas, kantin tempat orang tua menunggu anak-anak. Minusnya sih, sekolah ini lumayan jauh dari rumah, sekitar 7 km. Namun, aku suka dari jam belajarnya, ternyata di HHK Kamboja ada 2 jam pelajaran. Ada yang masuk jam 07.30 dan ada yang 09.30

Dengan pertimbangan banyak hal, akhirnya aku putuskan untuk mendaftarkan Bella ke TK HHK Kamboja. Semoga kelak di sekolah ini Bella betah dan bisa bersosialisasi. Saat itu aku putuskan untuk memilih yang jam 09.30, karena aku ga mau Bella merasa terpaksa sekolah karena harus bangun pagi-pagi. Dengan jam belajar agak siangan, saya berharap dia bisa bangun sesuka hatinya tanpa megubah jam tidurnya, karena pertimbangannya adalah usianya yang adalah usia dimana dia masih harus bermain.

Biaya Sekolah di HHK Kamboja ini lumayan fantastis…wkaakkakak. Untuk Uang Pangkal saya harus bayar sekitar 9,5 juta termasuk SPP bulan pertama. Dan untuk SPP perbulan 500ribu. Sebagai ibu muda yang baru pertama kali memberangkatkan anaknya ke dunia sekolah, sebenarnya shock sih. Tapi mungkin inilah sudah jamannya yang sangat jauh berbeda dengan jaman saya mama nya dulu.
Setelah pendaftaran saat itu, Bella langsung diminta ikut hadir pada saat pengembalian formulir untuk menentukan ukuran baju. Melihat Bella pakai seragam sekolah saat itu, sedih rasanya, ternyata putir pertamaku sudah bertumbuh besar.


Semoga usaha untuk menemukan sekolah buat Bella menjadi usaha terbaik yang kami lakukan dan semoga Bella nyaman di dalamnya.



_Life by love and to love_
God Bless

Alumni yang Profesional & Berintegritas

Dua minggu lalu, saya dan suami memutuskan untuk mengikuti sebuah seminar alumni yang diselenggarakan oleh PERKANTAS Jakarta. Tidak kebetu...