Rabu, 24 Juni 2015

Dua Anak Kecil Yang Terpaksa Berjuang Untuk Hidup Di Kota Jakarta

Hari ini pulang kantor seperti biasa saya langsung menuju Duren Kalibata, titik temu jemputan antara saya dan suami, supaya tidak terlalu jauh mutarnya, mengingat kota Jakarta terlalu padat dan macet dengan ribuan kendaraan yang ada di dalamnya.

Namun, hari ini menjadi hari yang tak biasa, karena biasanya suami yang biasanya lebih dahulu tiba dibanding saya. Saya kebetulan menunggu di depan warung bakso, di pinggiran Mall Duren Kalibata, persis di bawah jembatan layang. Saya minta ijin duduk di salah satu kursi milik bapak tukang bakso.

Sembari menunggu, saya melayangkan pandangan ke seluruh titik sudut yang bisa dijangkau oleh pandangan saya saat itu. Dan di sebuah perhentian lampu merah, kebetulan ada  pertigaan, saya melihat dua orang anak kecil, yang dari satu kendaraan ke kendaraan lain, memukul-mukul sebuah botol aqua yang berisi pasir dan bebatuan, dengan mulut yang komat kamit. Saya tidak tahu persis apakah dia bernyanyi atau berpuisi, tapi yang pasti dia mengharapkan imbalan jasa dari setiap orang yang ada di kendaraan yang mereka masuki. Dari perawakannya, sepertinya mereka masih berusia 8 – 10 tahun, dengan tinggi kurang lebih 90-100 cm.

Ntah kenapa, pandangan saya tidak henti-hentinya mengarah kepada dua anak ini. Hati saya terenyuh, merasa iba, dan kasihan, tidak seharusnya anak di usia seperti ini dibebankan untuk mencari uang. Beberapa menit kemudian, karena lampu merah sudah berubah jadi hijau, kedua anak ini berteduh di bawah pohon kering, yang kebetulan ada di pertigaan jalan.

Persis di bawah pohon tempat anak-anak ini berteduh dan bermain sembari menunggu lampu hijau, terlihat seorang wanita paruh baya, yang sedang asyik dengan handphone di tangannya. Usianya menurut terawangan saya masih muda, mungkin sekitaran 30-35 tahun. Awalnya saya berpikir kalau wanita ini mungkin orang yang sama seperti saya, sedang menunggu seseorang atau sedang menunggu angkutan. Namun, saya terkejut ketika tiba-tiba, karena lampu hijau sudah berubah menjadi lampu merah, wanita ini memanggil kedua anak tersebut, saya kurang tau persis apa yang diomongkan mereka, tetapi dari gerak dan arahan tangannya, saya melihat si wanita sedang mengarahkan si anak (kepada anak yang yang lebih kecil, saya melihat tangan si ibu menunjuk ke lampu merah, dan kepada anak yang yang lebih basar, tangan si ibu mengarah ke dekat jembatan). Dan seketika pembicaraan selesai, kedua anak ini berjalan sesuai dengan arah tangan si ibu menunjuk ketika mereka berbicara.

Kondisi ini terjadi berulang, setiap pergantian lampu merah ke hijau, anak-anak kembali ke bawah pohon, dan setiap pergantian lampu hijau ke merah, wanita itu memberi arahan. Dan dalam kondisi itu, wanita tersebut hanya asyik memainkan handphone nya.
Hati saya langsung terhenyak. “What...???”. Ternyata mereka tidak bekerja dengan kemauan sendiri tetapi dengan arahan dan pimpinan seorang wanita. Saya tidak tau persis apakah wanita itu adalah ibu dari anak-anak ini, atau mereka hanya alat saja.

Mata saya perih, serasa mau meneteskan air mata, saya alihkan pandangan saya dari mereka, dan ntah kenapa hati kecil saya tiba-tiba bernyanyi kecil “Ini bukan hukuman, hanya satu isyarat, bahwa kita mesti banyak berbenah, memang bila kita kaji lebih jauh, dalam kekalutan, masih banyak tangan yang tega berbuat nista....by Ebiet G Ade”.

Saya alihkan pandangan saya ke jam tangan yang saya pakai, 16.29 Wib, sudah 20 menit ternyata saya duduk terdiam di tempat ini. Saya buka tas, dan ambil handphone, saya pengen memastikan, jangan-jangan suami sudah tiba daritadi tanpa saya sadari. Ternyata, belum ada message dari suami, saya tekan tombol dan kirim sms “bunda sudah di depan warung..”. Saya tutup Handphone dan masukkan kembali ke dalam tas.

Seketika saya melihat anak yang paling kecil yang saya perhatikan dari tadi ternyata sedang berada di warung bakso dimana saya duduk menunggu suami saya. Dengan jelas saya melihat dan mendengar alat musik yang terbuat dari botol aqua yang berisi pasir dan batu kerikil itu. Dan beberapa menit kemudian, dia menyodorkan tangan, meminta sekedar seikhlas hati dari orang-orang yang sedang makan bakso pada saat itu.

Keluar dari warung, saya memanggil si anak, dan memberikan duit receh yang kebetulan ada di tangan saya saat itu. Si anak berlari, dan dari jauh saya melihat dia bercerita dengan kawannya yang satu lagi. Dengan wajah sumringah dia bercerita dan menunjuk jarinya ke arah tempat saya duduk, seolah-olah dia berkata “saya dapat duit..darimana?..dari situ nah, dari orang-orang yang duduk di warung bakso”
Seketika itu juga..suami saya tiba di tempat saya menunggunya..

Saya belajar satu hal, betapa polos dan sucinya hati seorang anak yang dianugrahkan Tuhan ke dalam hidup setiap orang. Betapa polosnya seorang anak melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Betapa polosnya seorang anak mengungkapkan kebahagiaannya kepada orang lain. Mari berikan mereka apa yang seharusnya mereka dapatkan di usia kanak-kanaknya, kasih sayang dan pengayoman dari orangtua yang mengasihinya.


_Life by love and to love_

God Bless us

Senin, 27 April 2015

Belajar Mencukupkan Diri


Banyak hal dalam hidup ini yang bisa kita jadikan cermin pembelajaran. Dan saya yakin bukan sebuah kebetulan Tuhan mengijinkan kita untuk berada ataupun mungkin jatuh dalam sebuah kesalahan (Bukan berarti saya mentolerir kita jatuh kepada sebuah kesalahan).

Tulisan saya kali ini membahas tentang uang yang merupakan kebutuhan pokok setiap orang. Karena tanpa uang kita tidak bisa melakukan apa pun dan banyak orang yang berani melakukan apa saja bahkan mempertaruhkan dirinya untuk uang.

Dalam tulisan ini saya hanya ingin menceritakan bagaimana saya mendengarkan kata hati dan kehendak Tuhan.

Beberapa bulan terakhir ini, saya dan suami sedang memikirkan bisnis alternatif untuk menambah penghasilan, karena banyak hal yang harus kami benahi dari sisi keuangan keluarga kami.

Suatu hari, saya melihat postingan teman saya yang detailnya adalah bonus yang diterimanya di hari itu. Keesokan harinya, saya melihat postingan yang sama dengan jumlah bonus yang lebih besar. Demikian juga hari hari berikutnya, kalau ga salah sampai 1 minggu berikutnya. Siapa yang ga penasaran sih. Akhirnya dengan rasa penasaran saya bbm dia dan tanya-tanya tentang bisnisnya. Saya pelajari, awalnya menurut saya ga masalah sih, karena lebih kepada pemasaran emas, dimana setiap kita mengajak orang membeli emas disana, kita mendapat komisi 500 ribu dari 1 orang.

Setelah 1 bulan, saya berniat untuk bergabung dengan bisnis tersebut. Tapi sebelum saya bergabung, diingatin oleh suami saya, sampai waktu itu saya tertunda 1 hari untuk mendaftar karena suami saya bertanya.
“yakin mau bergabung? Ini MLM loh. Saya kenal kamu bangat, tipe orang yang paling ga bisa melakukan suatu hal yang dianggap banyak orang salah.”
Dengan yakin, saya jawab “kok ga yakin? Emang apa salahnya sih  jalanin bisnis MLM? Apa bedanya denga orang-orang yang jadi agen rumah, mobil, dll, yang mana setiap mereka membawa pembeli, mereka mendapat komisi? Ini kan sistemnya saja.”
“Okaylah, saya ingatin saja, memang sih di alkitab ga ada dinyatakan ini salah atau benar, saya juga masih pengen belajar tentang sistem bisnis nya MLM”

Dan akhirnya saya bergabung. Dua minggu sejak bergabung, saya mendapat bonusnya, dan dengan cara yang sama yang dilakukan oleh teman saya, saya langsung upload di sosmed.
Senengnya ga ketulungan, karena banyak yang penasaran. Dan salah seorang yang penasaran tadi, akhirnya mengingatkanku bahwa bisnis itu adalah bisnis yang salah, berskema ponzi, dan tidak legal.
Dalam waktu yang sama, saya klarifikasi satu persatu, dari legalitas perusahaan sampai kepada skema ponzi yang dimaksud.

Malam harinya, saya ceritakan kepada suami, kalau saya baru saja diingatin tentang bisnis yang sedang kita jalani bahwa bisnis ini tidak baik dan berskema ponzi. Akhirnya kita berdiskusi,
“Hmmmm, dimana letak salahnya katanya? “
“Inikan berskema ponzi, artinya pihak yang di atas lebih diuntungkan sementara pihak yang di bawah yang menjadi kaki-kakinya dirugikan”
“Loh, apa bedanya dengan perusahaan yah, kan bos kita yang sudah jauh di atas kita juga sekarang kerjaannya tinggal ongkang-ongkang kaki dan ttd, yang ngerjakan kan bawahannya”
“Iya ya ayah, trus kalau seperti  grosir-grosir itu, dia kan juga punya agen yah kan ayah untuk menyebarkan produknya”
“Atau begini aja deh, kita browsing dulu artikel-artikel yang berkaitan dengan itu”
Akhirnya kita sepakat browsing artikel, dan kita menemukan artikel yang kebetulan banyak diungkapkan di www.wabina.org seperti berikut :
  1. MLM bukan pyramid?
  2. MLM = Menipu Lewat Menjual
  3. RRC melarang MLM
  4. MLM yang resmi
Yang menarik dalam artikel ini,jikalaupun seorang kristiani tergiur dengan MLM, hanya jika:
a.       Menjual produk yang bersaing dengan produk sejenis di pasar baik secara mutu maupun harga
b.      Produk juga dijual kepada umum  ( di USA ada peraturan yang menentukan penjualan 30% kepada umum, ini untuk menunjukkan kualitas mutu dan harga secara bersaing dan distributor tidak termotivasi  membeli barang yang tidak diperlukan demi mengejar komisi) 

Selesai membaca artikel-artikel itu, hati kami tersentuh dan membuat kami kembali merenung, tapi jujur kita masih membenarkan diri nih.
“Brarti disini ga ada salahnya kan yah? Hanya kepada motivasinya yah ayah?”
“Iyah sih. Kembali ke motivasi kita masing-masing. Sekarang, coba tanya hati kita, apa iya kita jalanin bisnis ini mengarah kepada supaya kita bisa mendapat uang semata?, jangan pada akhirnya kita hanya bermain-main dengan logika dan membenarkan semuanya dengan logika yang ada”
Sehari kemudian, kembali sebelum beristirahat, kita bahas tentang MLM.
“Ayah, iya yah.. Kenapa kita harus jalanin bisnis ini? Kan memang karena duit kan? Kalau dipikir-pikir, sampai kapan kita akan puas dengan uang yang kita miliki?”
“Nah itu dia yang ayah bilang dari awal, sangat susah untuk mendeteksinya”
“Kalau dipikir-pikir yah, benar juga, darimanalah si PT ini dapat keuntungan yah, baru saja daftarin anggota baru sudah dapat bous 500 ribu”
“Yah kan jelas sebenarnya Bun, yah dari duit yang 3,6 juta itu, kan ada voucer 2,5 juta, itulah diputar-putarnya semua”
“ouwww...iyah juga yah. Tapi kan katanya keuntungannya dapat dari penjualan emas yang dari voucer”. Tapi dalam hati, tapi iyah juga yah, kan baru daftar hari ini, kita besoknya sudah dapat bonus, belum lagi voucernya digunakan.

Setelah pembahasan itu, jujur aku sebenarnya tidak ada semangat lagi untuk jalanin bisnis ini.
Terkadang, ada waktu dimana saya juga bercerita ke orang-orang tentang apa salahnya bisnis MLM. Orang yang saya pilih untuk diskusi adalah orang-orang yang semasa lajangnya aktif di pelayanan. Secara garis besar, mereka menyatakan bahwa MLM itu bukan bisnis yang salah, tetapi merupakan strategi pasar. Tapi jujur, dalam hati saya jelas-jelas sudah mengatakan MLM ini salah, tapi yang namanya manusia yah, selalu mencari pembenaran diri..hahahaha

Semakin saya mencoba untuk mulai memperkenalkan bisnis ini ke orang-orang, disaat itu juga hati saya berkata “ Ayo juju, berhentilah. Mosok iyah sih ada bisnis yang dengan gampangnya bisa mendapatkan komisi sebesar itu?” Teringat kembali dengan pelajaran dulu-dulu, “Bekerja bukan hanya untuk uang walaupun uang itu dibutuhkan. Bekerja adalah cara kita untuk mewujudnyatakan siapa Allah kita melalui karya-karya kita”. “Kalau dengan mengajak orang terlibat dalam bisnis yang dengan cepat menghasilkan uang, itu artinya saya mewujudnyatakan bahwa Allah yang saya sembah adalah Allah yang hanya mengejar uang”. “Tidak..tidak..tidak..Allah yang saya sembah adalah Allah yang penuh kasih, Allah yang mengajarkan tentang arti dan makna hidup, dan itu bukan karena uang. Dan jika pada akhirnya orang-orang meletakkan ketenangannya di uang, dimanakah letak Allah dalam kehidupan kita”. Begitu banyak hal pernyataan-pernyataan yang timbul dalam benak saya.

Sampai akhirnya, sebulan kemudian saya menyerah dan benar-benar tidak akan memikirkan bisnis ini lagi. Tapi, saya mulai berpikir suatu alasan yang bisa diterima akal sehat, kenapa bisnis ini tidak baik (bukan berarti saya mencari-cari kesalahan bisnis ini yah). Karena, ada banyak orang yang terlibat dalam bisnis ini, ada yang katanya sudah bertumbuh iman, dan ada juga orang awam yang belum tau apa itu pertumbuhan iman.

Salah satu hal yang tidak masuk akal saya dalam bisnis ini adalah penggunaan voucer. Kita diijinkan memakai 1 voucer senilai 100.000 untuk 4 keping emas batangan antam 2 gram. Saya coba cek harga emas antam hari ini, 27 April 2015 di web antam untuk emas batangan @2gr adalah Rp. 1.050.000, dan sementara di PT ini adalah Rp. 1.150.000. Saya mengikuti aturan di PT, untuk menggunakan 1 voucer, saya harus membeli 4 keping emas batangan @2gr, berarti 4 x Rp.1.150.000 adalah Rp. 4.600.000 . Dan ketika saya bandingkan dengan harga emas di Antam, untuk emas batangan @2 gr 4 keping, saya cukup membayar 4.200.000. Artinya saya rugi 400 ribu setiap saya membeli emas dengan menggunakan voucer di tempat mereka. Alangkah berdosanya saya, ketika saya mengajak puluhan orang untuk membeli emas yang harganya jauh lebih mahal. Dan bagi saya ini adalah pembodohan.

Teman-teman pembaca, apa yang saya mau ceritakan disini bukan bermaksud buruk, tetapi alangkah baiknya kita menggunakan akal dan pikiran kita, dengan hitung-hitungan yang saya telah lakukan. Betapa banyaknya orang yang akan rugi secara finansial hanya karena kita.

Khusus bagi teman-teman yang mengatakan dirinya sudah berada pada pertumbuhan rohani/iman, mari dengarkan kata hatimu, Tuhan itu menegor kita, mengingatkan kita dengan cara yang sangat indah. Saya akui, saya lemah ketika akhirnya saya terjatuh dan tergoda dalam bisnis ini. Tetapi, syukur kepada Tuhan, saya masih diingatkan. Tak ada kata terlambat. Sebelum semakin banyak orang yang kita rekrut untuk rugi, mari ambil keputusan yang tepat.

_Life by love and to love_
God bless us

Rabu, 28 Januari 2015

Keajaiban Kuasa Doa



Pertanyaan pertama yang akan saya tanyakan sebelum memulai cerita saya adalah “Kapan dan  hal apa yang engkau ingat dan betul-betul engkau rasakan Tuhan menjawab doa mu?”
Pertanyaan gampang, tapi penting untuk terus kita renungkan dalam hidup kita.
Kenapa? Ketika kita belajar mengingat perbuatan Tuhan dalam hidup kita, disitulah kita akan diingatkan untuk bersyukur betapa baiknya Tuhan itu.

Tepat di awal tahun, tanggal 09 Januari 2015, ketika kita masih mengawali hari di tahun baru ini, saya merasakan kebaikan Tuhan yang luar biasa.

Sebagai keluarga muda, yang masih berpenghasilan pas-pas an, kami mengalami kesulitan dalam masalah keuangan, kebetulan kami juga baru melakukan KPR cicilan rumah.
Gaji yang kami peroleh di akhir bulan, baik gaji saya juga suami saya, seketika habis karena harus bayar cicilan rumah, cicilan pinjaman untuk DP rumah, belum lagi kebutuhan rumah.
Dan setiap saya dan suami mulai bimbang, kami belajar saling nguatin, “Tuhan pasti cukupkan”
Tepat di tanggal 7 Januari, jujur, kami tidak lagi memiliki duit satu rupiah pun. Tapi, kebetulan, sepupu suami saya sedang pegang duit 600 ribu, duit yang seharusnya dikirim ke kampung, tapi belum dapat ditransfer karena belum ada info.
Malamnya, kita ngomong ke sepupu:
“Kapan kamu kirim duitnya?”
“Belum tau, belum dikirim no rekeningnya”
“Boleh kami pinjam dulu sementara sebelum ditransfer ke kampung? Ntar kalau sudah ada info dari kampung, kita langsung transfer balik”

Sebenarnya hati ini begitu malu rasanya, tetapi itu harus dilakukan. Dan malam itupun, duit ada di tangan. Seketika lega karena ada pegangan
Keesokan harinya tepat jam 10 pagi, sepupu saya sms:
“Bun..duitnya transfer aj sekarang yah, no rekeningnya sudah dikirim mama”
Dalam hati hancur rasanya, belum lagi itu duit 1x24 jam dipegang, sudah harus ditransfer lagi. Seketika saya telp suami saya
“Ayah, Apin sudah minta duitnya ditransfer ke kampung, katanya sudah dikasih no rek nya dari kampung”
“Waduh..gmana itu, ayah sudah pake buat bayar listrik tadi, mau gimana lagi”
“Jadi gimana dong”
“Ya sudah, bilang aj dulu kalau ayah lagi di lapangan, ga bisa kirim duitnya sekarang, besok aj”
Alasan itu pun kuat untuk mengcancel transfer duit tersebut.
Tapi dalam hati hancur bangat rasanya, kok rasanya hidup ini begitu susah yah. Tapi dalam hati tetap berkata, ajar aku Tuhan untuk menikmati hari-hari ini walaupun kondisi sekarang susah untuk menikmatinya.
Sekitar jam 3-an sore, sms saya berbunyi, seketika saya buka, dari 3355.. “Kredit sebesar 2.000.000......”
Sekujur tubuh serasa lemas, air mata hampir mengalir. Tak sanggup berkata-kata untuk menyatakan betapa baik dan mengertinya Tuhan itu.
Dan saat itu juga, say buka hp saya, saya tulis di note :
“Hari ini aq menyaksikan karya Tuhan yg begitu luar biasa..
Menjawab doa disaat hampir tiada harapan..
Terimakasih Tuhann..
Terimakasih buat suamiku yg terus membimbingku utk percaya dgn iman..
Mengingatkanku terus utk tdk lupa berserah padaMU”
Seketika saya telp suami saya:
“Ayah, ada kabar baik”
“apa itu”
“Ada duit masuk”
“Berapa?”
“2 juta”
“Thanks God”
“Baik bangat ya ayah Tuhan itu. Mengerti bangat akan kondisi kita”
“Iyah..Just Thank You God”

Mungkin, bagi kebanyakan orang, duit sejumlah 2 juta rupiah adalah hal yang kecil, tapi bagi kami saat itu, duit itu adalah hal yang begitu luar biasa. Disaat kami tidak memiliki duit pegangan, bahkan harus mentransfer duit yang sudah terlanjur kami pakai.
Tidak cukup sampai disitu, sorenya sehampir pulang kerja, ada surat panggilan masuk, perihal panggilan tugas ke Yogyakarta.
Lagi-lagi kami bersyukur, karena dalam pelaksanaan tugas luar, kita ada biaya perjalanan dinas diberikan kantor.
Just Thank You God
Pentingnya doa dalam hidup kita, Saya tertarik untuk belajar dari Yakobus 5 : 16 – 18 :
5:16 Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu q  dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. 5:17 Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan.5:18 Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya”

  1. Mengaku dosa
Ayat ini diawali dengan ajakan untuk saling mengaku doa dan saling mendoakan. Ada esensi yang dapat kita pelajari, bahwa doa bukan hanya sekedar daftar permohonan kepada Tuhan, tetapi lebih kepada penyerahan. Mengaku dosa menekankan kepada kita untuk membawa diri kepada Tuhan, mengakui keberadaan kita sebagai orang berdosa, orang yang keseharian pasti jatuh dalam dosa, orang yang sebenarnya tidak layak untuk datang kepada Tuhan.

  1. Saling mendoakan
Kita tidak diajak untuk menyatakan daftar permohonan kita kepada Tuhan, tetapi kita diajak untuk saling mendoakan, artinya kita mendoakan orang lain. Kita belajar untuk menghilangkan ego, belajar untuk tidak memikirkan diri dan segala kebutuhan dan permasalahn kita. 

  1. Doa orang benar bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.
Satu ayat yang erat kaitannya dengan hal ini, Matius 18 : 19 :” Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga”
Apa yang dapat kita pelajari dari nats ini? Kita belajar untuk mengimani doa yang kita panjatkan. Dan dalam hal ini, Tuhan berjaanji bahwa ketika kita sepakat meminta apapun, maka akan dikabulkan. Alangah indahnya..
Belajar dari Elia pada ayat 17, jelas dikatakan bahwa Elia adalah orang biasa. Ayat ini menekankan bahwa Elia sama seperti kita, manusia biasa. Tapi, ada satu hal yang dilakukan Elia dengan sungguh-sungguh, yaitu berdoa. Ketika Elia meminta hujan jangan turun, maka hujan tidak turun, dan ketika Elia meminta hujan turun, maka hujan turun.

Lalu, apa yang kita ragukan? Kalau Elia bisa, kenapa kita tidak bisa?
Namun, ada hal yang perlu kita ingat dalam berdoa:
“Doa adalah penyembahan dan puji-pujian kepada Allah”
“Doa adalah penyerahan penuh kepada Allah”
“Doa adalah hubungan yang intim kepada Allah”

Mari belajar membangun mezbah doa, bukan doa yang 5 menit, 10 menit, tapi doa yang kita lakukan ber jam-jam, bahkan kurang, karena tak cukup kata-kata dan puji-pujian yang aada di dunia ini untuk melukiskan kebaikan dan kebesaran Tuhan.

Mari kita abaikan kelelahan kita, abaikan mata kantuk, disiplinkan diri untuk menjadi anak Tuhan yang taat. Mulai sekaarang, tidak besok..


_life by love and to love_
God Bless us

Jumat, 23 Januari 2015

Alkitab vs Gadget

Sekedar berbagi pengalaman yang saya rasakan. Ada nilai yang saya ambil yang mungkin juga bermanfaat buat teman-teman semua.

Tidak sebuah kebetulan, ketika dalam masa perjalanan tugas saya satu minggu di Palembang, saya mengikuti ibadah warga TNI-AD di Kodam Sriwijaya. Dan kembali bukan sebuah kebetulan, ibadah tersebut dilakukan di Rumah Bapak angkat saya (Kalau di adat batak, ketika seorang wanita masuk dalam keluarga pria, maka si wanita secara otomatis menjadi anak/putri dari Oom si pria).

Yang hadir dalam ibadah ini, usianya variasi, ada yang sudah tua di atas 40 tahuan an, ada yang masih sebaya saya yang masih keluarga muda, ada yang masih lajang (usianya sekitaran 20 tahun mungkin, karena menurut cerita papa saya, baru satu tahun diangkat jadi TNI).

Sepanjang ibadah dari awal sampai akhir, ada saat-saat kita membuka dan membaca alkitab, khususnya ketika sesi kotbah.  Saya tertarik ketika dalam acara ibadah tersebut, tidak ada satu orangpun yang membuka alkitab elektronik seperti kebanyakan orang saat ini, yang dalam setiap ibadah di gereja selalu menggunakan gadget nya. Kebetulan saya bukan penggemar alkitab elektronik, sekalipun saya tetap instal juga di gadget saya. Semua yang hadir dalam ibadah ini, benar-benar membuka alkitab konvensional yang berbentuk buku, bukan alkitab dalam gadget. Dalam hati saya berkata, “alangkah sederhananya hidup mereka ini, saya sepertinya merasakan suasana ibadah seperti di kampung”.

Selesai acara ibadah, mungkin sudah tradisi di lingkungan ini untuk acara kebersamaan, mencicipi hidangan yang telah disediakan oleh tuan rumah. Saya terkejut ketika dalam acara santai ini, mereka membuka gadget mereka masing-masing. “What..???”, saya dari tadi sempat berpikir kalau mereka tidak membuka alkitab di gadget karena mereka tidak punya gadget. Tetapi ternyata yang saya pikirkan salah. “Luar biasa, praise God” dalam hati saya




Sejenak saya merenung, dan membandingkan apa yang saya rasakan di lingkungan saya di jakarta dengan lingkungan yang saya rasakan saat ini di Palembang. Sebagian besar orang yang beribadah ke gereja tidak lagi terlihat membawa alkitab karena sudah digantikan dengan gadget. Saya membandingkan dengan apa yang saya rasakan disini. Saya belajar, bukan karena mereka tidak memiliki gadget sehingga mereka tidak membuka alkitab di gadget yang mereka miliki, tetapi mereka tau menempatkan yang tepat pada tempat dan waktunya, mereka bisa menahan diri dengan kemajuan teknologi yang ada. Luar biasa...

Saya memang masuk dalam golongan orang yang tidak suka dengan penggunaan  alkitab elektronik di ibadah, tetapi bukan berarti saya menolak kemajuan teknologi yang menurut saya ini perkembangan yang sangat membantu. Saya tetap memakai alkitab gadget saya di tempat-tempat yang tidak memungkinkan saya untuk menggunakan alkitab konvensional yang berbentuk buku, misalnya di tempat umum, di kantor, dan juga waktu liburan. Dan dalam kondisi seperti ini, alkitab di gadget sangat membantu saya bisa rutin membaca alkitab.

Mungkin satu pertanyaan penting yang menjadi renungan adalah, “kira-kira seperti apa orang Kristen akan dilihat, ketika beribadah ke rumah ibadah yang suci, tidak lagi membawa alkitab, tetapi sudah digantikan dengan gadget?”.

Semoga menjadi berkat untuk kita semua



_Life by love and to love_
God Bless Us

Kamis, 01 Januari 2015

Pengalaman Berharga Di Sebuah Perjalanan



Perjalanan ke  kota Tangerang menjadi perjalanan pertama kami di Tahun ini layaknya kebanyakan orang menyongsong tahun baru. Kalau di orang batak, sudah tradisi saling mengunjungi terutama keluarga yang lebih muda mengunjungi keluarga yang lebih tua.

Perjalanan yang indah, karena dalam kesederhanaan, saya bersama putri cantik kami dan suami menikmati perjalanan ini dengan Commuterline Jakarta.

Dalam perjalanan pulang ke Jakarta, tepat pada stasiun kedua setelah stasiun Tangerang, terlihat seorang Ibu yang sedang mengandung bersama dua orang anaknya membawa plastik hitam besar yang isinya saya pun kurang tau. Anak pertama perempuan sekitar usia 5 tahun dan anak kedua laki-laki sekitar 2 tahun.

Dalam hati, saya begitu iba dengan ibu tersebut dengan segala kondisi yang sedang dia alami saat ini.
Kondisi kereta tiba-tiba ramai ketika anak si ibu yang laki-laki menangis, dan tragisnya si ibu memukul anak tersebut dan sampai terlempar ke ujung kursi. Sebuah keberuntungan bagi anak tersebut karena tidak sengaja, badannya yang kecil terlempar ke pelukan seorang laki-laki remaja yang merupakan salah satu penumpang dari kereta kami.

Seluruh mata tertuju kepada kejadian ini, dan ketika si anak menangis kembali, si ibu kembali lagi mencubit si anak dengan emosi yang meluap-luap, sehingga anak tersebut hanya bisa menangis dan menangis.

Seketika, iba saya diawal berubah menjadi sebuah kemarahan dalam hati.
Menjadi pelajaran bagi kita para ibu, seperti apa kasih sayang yang sudah kita berikan kepada anak-anak kita?

Tidakkah kita mengetahui bahwa satu bentakan, perkataan kasar, makian atau yang semacamnya kepada anak yang masih dalam pertumbuhan akan berakibat sangat fatal? Karena bentakan atau perbuatan kasar dapat membunuh lebih dari 1 milyar sel otak saat itu juga. Dan bahkan sebuah pukulan atau cubitan yang disertai dengan bentakan maka akan membunuh lebih dari bermilyar-milyarsel otak saat itu juga.

Akan tetapi sebaliknya, dengan satu pujian, pelukan dan kasih sayang maka akan membangun dengan sangat baik kecerdasan seorang anak dengan perkembangan otak anak yang sangat cepat

Hai ibu-ibu yang saat ini diberikan kepercayaan oleh yang Mahakuasa untuk menjaga anak yang saat ini menjadi anugrah dalam pernikahan kita, mari sayangi mereka, mari berikan yang terbaik. Kalaupun dia salah, dia tidak perlu dibentak bahkan dipukul, mari nasehatin dengan lembut, maka dia akan mengerti karena setiap anak diciptakan pikiran yang cerdas yang mampu memahami


_Life by love and to love_
God Bless Us

Alumni yang Profesional & Berintegritas

Dua minggu lalu, saya dan suami memutuskan untuk mengikuti sebuah seminar alumni yang diselenggarakan oleh PERKANTAS Jakarta. Tidak kebetu...