Rabu, 28 Januari 2015

Keajaiban Kuasa Doa



Pertanyaan pertama yang akan saya tanyakan sebelum memulai cerita saya adalah “Kapan dan  hal apa yang engkau ingat dan betul-betul engkau rasakan Tuhan menjawab doa mu?”
Pertanyaan gampang, tapi penting untuk terus kita renungkan dalam hidup kita.
Kenapa? Ketika kita belajar mengingat perbuatan Tuhan dalam hidup kita, disitulah kita akan diingatkan untuk bersyukur betapa baiknya Tuhan itu.

Tepat di awal tahun, tanggal 09 Januari 2015, ketika kita masih mengawali hari di tahun baru ini, saya merasakan kebaikan Tuhan yang luar biasa.

Sebagai keluarga muda, yang masih berpenghasilan pas-pas an, kami mengalami kesulitan dalam masalah keuangan, kebetulan kami juga baru melakukan KPR cicilan rumah.
Gaji yang kami peroleh di akhir bulan, baik gaji saya juga suami saya, seketika habis karena harus bayar cicilan rumah, cicilan pinjaman untuk DP rumah, belum lagi kebutuhan rumah.
Dan setiap saya dan suami mulai bimbang, kami belajar saling nguatin, “Tuhan pasti cukupkan”
Tepat di tanggal 7 Januari, jujur, kami tidak lagi memiliki duit satu rupiah pun. Tapi, kebetulan, sepupu suami saya sedang pegang duit 600 ribu, duit yang seharusnya dikirim ke kampung, tapi belum dapat ditransfer karena belum ada info.
Malamnya, kita ngomong ke sepupu:
“Kapan kamu kirim duitnya?”
“Belum tau, belum dikirim no rekeningnya”
“Boleh kami pinjam dulu sementara sebelum ditransfer ke kampung? Ntar kalau sudah ada info dari kampung, kita langsung transfer balik”

Sebenarnya hati ini begitu malu rasanya, tetapi itu harus dilakukan. Dan malam itupun, duit ada di tangan. Seketika lega karena ada pegangan
Keesokan harinya tepat jam 10 pagi, sepupu saya sms:
“Bun..duitnya transfer aj sekarang yah, no rekeningnya sudah dikirim mama”
Dalam hati hancur rasanya, belum lagi itu duit 1x24 jam dipegang, sudah harus ditransfer lagi. Seketika saya telp suami saya
“Ayah, Apin sudah minta duitnya ditransfer ke kampung, katanya sudah dikasih no rek nya dari kampung”
“Waduh..gmana itu, ayah sudah pake buat bayar listrik tadi, mau gimana lagi”
“Jadi gimana dong”
“Ya sudah, bilang aj dulu kalau ayah lagi di lapangan, ga bisa kirim duitnya sekarang, besok aj”
Alasan itu pun kuat untuk mengcancel transfer duit tersebut.
Tapi dalam hati hancur bangat rasanya, kok rasanya hidup ini begitu susah yah. Tapi dalam hati tetap berkata, ajar aku Tuhan untuk menikmati hari-hari ini walaupun kondisi sekarang susah untuk menikmatinya.
Sekitar jam 3-an sore, sms saya berbunyi, seketika saya buka, dari 3355.. “Kredit sebesar 2.000.000......”
Sekujur tubuh serasa lemas, air mata hampir mengalir. Tak sanggup berkata-kata untuk menyatakan betapa baik dan mengertinya Tuhan itu.
Dan saat itu juga, say buka hp saya, saya tulis di note :
“Hari ini aq menyaksikan karya Tuhan yg begitu luar biasa..
Menjawab doa disaat hampir tiada harapan..
Terimakasih Tuhann..
Terimakasih buat suamiku yg terus membimbingku utk percaya dgn iman..
Mengingatkanku terus utk tdk lupa berserah padaMU”
Seketika saya telp suami saya:
“Ayah, ada kabar baik”
“apa itu”
“Ada duit masuk”
“Berapa?”
“2 juta”
“Thanks God”
“Baik bangat ya ayah Tuhan itu. Mengerti bangat akan kondisi kita”
“Iyah..Just Thank You God”

Mungkin, bagi kebanyakan orang, duit sejumlah 2 juta rupiah adalah hal yang kecil, tapi bagi kami saat itu, duit itu adalah hal yang begitu luar biasa. Disaat kami tidak memiliki duit pegangan, bahkan harus mentransfer duit yang sudah terlanjur kami pakai.
Tidak cukup sampai disitu, sorenya sehampir pulang kerja, ada surat panggilan masuk, perihal panggilan tugas ke Yogyakarta.
Lagi-lagi kami bersyukur, karena dalam pelaksanaan tugas luar, kita ada biaya perjalanan dinas diberikan kantor.
Just Thank You God
Pentingnya doa dalam hidup kita, Saya tertarik untuk belajar dari Yakobus 5 : 16 – 18 :
5:16 Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu q  dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. 5:17 Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan.5:18 Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya”

  1. Mengaku dosa
Ayat ini diawali dengan ajakan untuk saling mengaku doa dan saling mendoakan. Ada esensi yang dapat kita pelajari, bahwa doa bukan hanya sekedar daftar permohonan kepada Tuhan, tetapi lebih kepada penyerahan. Mengaku dosa menekankan kepada kita untuk membawa diri kepada Tuhan, mengakui keberadaan kita sebagai orang berdosa, orang yang keseharian pasti jatuh dalam dosa, orang yang sebenarnya tidak layak untuk datang kepada Tuhan.

  1. Saling mendoakan
Kita tidak diajak untuk menyatakan daftar permohonan kita kepada Tuhan, tetapi kita diajak untuk saling mendoakan, artinya kita mendoakan orang lain. Kita belajar untuk menghilangkan ego, belajar untuk tidak memikirkan diri dan segala kebutuhan dan permasalahn kita. 

  1. Doa orang benar bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.
Satu ayat yang erat kaitannya dengan hal ini, Matius 18 : 19 :” Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga”
Apa yang dapat kita pelajari dari nats ini? Kita belajar untuk mengimani doa yang kita panjatkan. Dan dalam hal ini, Tuhan berjaanji bahwa ketika kita sepakat meminta apapun, maka akan dikabulkan. Alangah indahnya..
Belajar dari Elia pada ayat 17, jelas dikatakan bahwa Elia adalah orang biasa. Ayat ini menekankan bahwa Elia sama seperti kita, manusia biasa. Tapi, ada satu hal yang dilakukan Elia dengan sungguh-sungguh, yaitu berdoa. Ketika Elia meminta hujan jangan turun, maka hujan tidak turun, dan ketika Elia meminta hujan turun, maka hujan turun.

Lalu, apa yang kita ragukan? Kalau Elia bisa, kenapa kita tidak bisa?
Namun, ada hal yang perlu kita ingat dalam berdoa:
“Doa adalah penyembahan dan puji-pujian kepada Allah”
“Doa adalah penyerahan penuh kepada Allah”
“Doa adalah hubungan yang intim kepada Allah”

Mari belajar membangun mezbah doa, bukan doa yang 5 menit, 10 menit, tapi doa yang kita lakukan ber jam-jam, bahkan kurang, karena tak cukup kata-kata dan puji-pujian yang aada di dunia ini untuk melukiskan kebaikan dan kebesaran Tuhan.

Mari kita abaikan kelelahan kita, abaikan mata kantuk, disiplinkan diri untuk menjadi anak Tuhan yang taat. Mulai sekaarang, tidak besok..


_life by love and to love_
God Bless us

Jumat, 23 Januari 2015

Alkitab vs Gadget

Sekedar berbagi pengalaman yang saya rasakan. Ada nilai yang saya ambil yang mungkin juga bermanfaat buat teman-teman semua.

Tidak sebuah kebetulan, ketika dalam masa perjalanan tugas saya satu minggu di Palembang, saya mengikuti ibadah warga TNI-AD di Kodam Sriwijaya. Dan kembali bukan sebuah kebetulan, ibadah tersebut dilakukan di Rumah Bapak angkat saya (Kalau di adat batak, ketika seorang wanita masuk dalam keluarga pria, maka si wanita secara otomatis menjadi anak/putri dari Oom si pria).

Yang hadir dalam ibadah ini, usianya variasi, ada yang sudah tua di atas 40 tahuan an, ada yang masih sebaya saya yang masih keluarga muda, ada yang masih lajang (usianya sekitaran 20 tahun mungkin, karena menurut cerita papa saya, baru satu tahun diangkat jadi TNI).

Sepanjang ibadah dari awal sampai akhir, ada saat-saat kita membuka dan membaca alkitab, khususnya ketika sesi kotbah.  Saya tertarik ketika dalam acara ibadah tersebut, tidak ada satu orangpun yang membuka alkitab elektronik seperti kebanyakan orang saat ini, yang dalam setiap ibadah di gereja selalu menggunakan gadget nya. Kebetulan saya bukan penggemar alkitab elektronik, sekalipun saya tetap instal juga di gadget saya. Semua yang hadir dalam ibadah ini, benar-benar membuka alkitab konvensional yang berbentuk buku, bukan alkitab dalam gadget. Dalam hati saya berkata, “alangkah sederhananya hidup mereka ini, saya sepertinya merasakan suasana ibadah seperti di kampung”.

Selesai acara ibadah, mungkin sudah tradisi di lingkungan ini untuk acara kebersamaan, mencicipi hidangan yang telah disediakan oleh tuan rumah. Saya terkejut ketika dalam acara santai ini, mereka membuka gadget mereka masing-masing. “What..???”, saya dari tadi sempat berpikir kalau mereka tidak membuka alkitab di gadget karena mereka tidak punya gadget. Tetapi ternyata yang saya pikirkan salah. “Luar biasa, praise God” dalam hati saya




Sejenak saya merenung, dan membandingkan apa yang saya rasakan di lingkungan saya di jakarta dengan lingkungan yang saya rasakan saat ini di Palembang. Sebagian besar orang yang beribadah ke gereja tidak lagi terlihat membawa alkitab karena sudah digantikan dengan gadget. Saya membandingkan dengan apa yang saya rasakan disini. Saya belajar, bukan karena mereka tidak memiliki gadget sehingga mereka tidak membuka alkitab di gadget yang mereka miliki, tetapi mereka tau menempatkan yang tepat pada tempat dan waktunya, mereka bisa menahan diri dengan kemajuan teknologi yang ada. Luar biasa...

Saya memang masuk dalam golongan orang yang tidak suka dengan penggunaan  alkitab elektronik di ibadah, tetapi bukan berarti saya menolak kemajuan teknologi yang menurut saya ini perkembangan yang sangat membantu. Saya tetap memakai alkitab gadget saya di tempat-tempat yang tidak memungkinkan saya untuk menggunakan alkitab konvensional yang berbentuk buku, misalnya di tempat umum, di kantor, dan juga waktu liburan. Dan dalam kondisi seperti ini, alkitab di gadget sangat membantu saya bisa rutin membaca alkitab.

Mungkin satu pertanyaan penting yang menjadi renungan adalah, “kira-kira seperti apa orang Kristen akan dilihat, ketika beribadah ke rumah ibadah yang suci, tidak lagi membawa alkitab, tetapi sudah digantikan dengan gadget?”.

Semoga menjadi berkat untuk kita semua



_Life by love and to love_
God Bless Us

Kamis, 01 Januari 2015

Pengalaman Berharga Di Sebuah Perjalanan



Perjalanan ke  kota Tangerang menjadi perjalanan pertama kami di Tahun ini layaknya kebanyakan orang menyongsong tahun baru. Kalau di orang batak, sudah tradisi saling mengunjungi terutama keluarga yang lebih muda mengunjungi keluarga yang lebih tua.

Perjalanan yang indah, karena dalam kesederhanaan, saya bersama putri cantik kami dan suami menikmati perjalanan ini dengan Commuterline Jakarta.

Dalam perjalanan pulang ke Jakarta, tepat pada stasiun kedua setelah stasiun Tangerang, terlihat seorang Ibu yang sedang mengandung bersama dua orang anaknya membawa plastik hitam besar yang isinya saya pun kurang tau. Anak pertama perempuan sekitar usia 5 tahun dan anak kedua laki-laki sekitar 2 tahun.

Dalam hati, saya begitu iba dengan ibu tersebut dengan segala kondisi yang sedang dia alami saat ini.
Kondisi kereta tiba-tiba ramai ketika anak si ibu yang laki-laki menangis, dan tragisnya si ibu memukul anak tersebut dan sampai terlempar ke ujung kursi. Sebuah keberuntungan bagi anak tersebut karena tidak sengaja, badannya yang kecil terlempar ke pelukan seorang laki-laki remaja yang merupakan salah satu penumpang dari kereta kami.

Seluruh mata tertuju kepada kejadian ini, dan ketika si anak menangis kembali, si ibu kembali lagi mencubit si anak dengan emosi yang meluap-luap, sehingga anak tersebut hanya bisa menangis dan menangis.

Seketika, iba saya diawal berubah menjadi sebuah kemarahan dalam hati.
Menjadi pelajaran bagi kita para ibu, seperti apa kasih sayang yang sudah kita berikan kepada anak-anak kita?

Tidakkah kita mengetahui bahwa satu bentakan, perkataan kasar, makian atau yang semacamnya kepada anak yang masih dalam pertumbuhan akan berakibat sangat fatal? Karena bentakan atau perbuatan kasar dapat membunuh lebih dari 1 milyar sel otak saat itu juga. Dan bahkan sebuah pukulan atau cubitan yang disertai dengan bentakan maka akan membunuh lebih dari bermilyar-milyarsel otak saat itu juga.

Akan tetapi sebaliknya, dengan satu pujian, pelukan dan kasih sayang maka akan membangun dengan sangat baik kecerdasan seorang anak dengan perkembangan otak anak yang sangat cepat

Hai ibu-ibu yang saat ini diberikan kepercayaan oleh yang Mahakuasa untuk menjaga anak yang saat ini menjadi anugrah dalam pernikahan kita, mari sayangi mereka, mari berikan yang terbaik. Kalaupun dia salah, dia tidak perlu dibentak bahkan dipukul, mari nasehatin dengan lembut, maka dia akan mengerti karena setiap anak diciptakan pikiran yang cerdas yang mampu memahami


_Life by love and to love_
God Bless Us

Alumni yang Profesional & Berintegritas

Dua minggu lalu, saya dan suami memutuskan untuk mengikuti sebuah seminar alumni yang diselenggarakan oleh PERKANTAS Jakarta. Tidak kebetu...