Jumat, 15 Desember 2017

Karena Mereka Lebih Berharga Dari Apapun Yang Aku Miliki



“Melepas genggaman akan apa yang selama ini aku anggap penting untuk menggapai apa yang saat ini aku anggap lebih berharga”

 
Kali ini, saya kembali mengangkat kisah pengalaman pribadi. Setiap orang pastinya pernah mengalami dilema dalam dirinya. Terlepas itu dilema dalam pekerjaan, keluarga, relasi, lingkungan, atau apapun itu. 

Dengan latar belakang didikan dan pengalaman hidup, dibesarkan dalam sebuah keluarga yang unik,  yang secara alami membentuk kepribadian, secara otomatis aku terbentuk menjadi pribadi yang menanamkan dalam benak “harus sukses”.

Sejak yang namanya mengecap dunia kerja, tak ada kata yang tak bisa bagiku, bahkan terkadang ada hal-hal yang sampai aku hiraukan termasuk juga jam makan, sehingga tak asing lagi ketika penyakit “tifus” kala itu pernah menjadi sahabat bagiku yang sampai saat ini masih berimbas.

Untuk hal apapun dalam kerja, lembur itu hal biasa bagiku. Bahkan walaupun sudah lembur, membawa kerjaan ke penginapan, menjadi hal yang biasa bagiku. Hari sabtu dan minggu bukan menjadi penghalang untuk tetap bekerja, demi sebuah kata yang namanya “kesuksesan”.

Bagiku, sukses itu harus dan wajib hukumnya, sehingga aku terus mengejar yang namanya sukses dengan segala upaya yang masih dalam jalur yang benar.
Seiring perjalanan waktu, yang namanya keinginan untuk sukses akhirnya sedikit demi sedikit pun bergeser.

Diawali ketika putri pertama yang Tuhan anugrahkan di tengah-tengah keluarga kecil kami, bagiku jarak jauh dengan suami begitu menyiksa rasanya. Sehingga dengan segala upaya dan doa kami berharap dan pasrah akan sebuah keyakinan untuk boleh berada dalam satu atap. Satu prinsi dalam kehidupanku bergeser akan arti sebuah kesuksesan.

Sampai akhirnya Tuhan menjawab doa kami, dan akhirnya bisa satu atap, walaupun dari sisi pekerjaan, agak berubah bidang, tapi tidak masalah bagiku. Karena pikirku, aku bisa belajar untuk meniti langkah awal lagi menuju kesuksesan kembali setelah bersama dengan suami.

Ternyata apa yang terjadi tidak seindah yang kubayangkan. Menjadi seorang ibu yang baru, ternyata begitu sulit untuk melepas dan meninggalkan si buah hati untuk yang namanya sebuah pekerjaan. Namun keinginan sukses yang telah tertanam hampir 18 tahun perjalanan hidup juga tidak bisa aku hilangkan. Sepertinya sudah mendarahdaging sebagai akibat bentukan panjang.

Keinginan untuk resign pernah terbersit untuk menjadi ibu rumahtangga penuh waktu, tetapi tak bisa kupungkiri kalau obsesi ku menjadi orang sukses ternyata lebih besar. Berhubung tidak disetujui oleh pasangan dan keluarga untuk resign, akhirnya perjalanan berada dalam dunia kerja pun tetap berjalan.

Menjadi working mom akhirnya menjadi sebuah rutinitas yang aku jalani hari lepas hari. Tapi tak bisa dipungkiri juga, sebagian besar waktu yang kumiliki adalah untuk pekerjaan. Tak jarang juga, sesekali aku masih bawa pekerjaan untuk dikerjakan di rumah. Walupun untuk satu hal, aku disiplin untuk selalu pulang tepat waktu ke rumah. Dan mungkin, selain usaha tetapi berkat Tuhan juga, penilaian yang selalu aku peroleh setiap semester dalam pekerjaan selalu memuaskan.

Sampai akhirnya Tuhan anugrahkan kemballi putri kedua di tengah-tengah kami, gejolak antara keinginan akan sebuah kesuksesan dengan kebutuhan anak akan kasih sayang semakin terasa. 

Selain latarbelakang kelahiran putri kedua yang sangat bersejarah bagi kami, waktu membawaku kepada sebuah ikatan yang tidak bisa kuelakkan lagi. Waktu membawaku kepada sebuah kondisi yang harus lekat dengan anak-anak yang Tuhan anugrahkan. Berpisah beberapa hari dengan mereka bisa membuatku berurai airmata bahkan sampai sakit.

Sempat terpikir dalam pikiranku, kenapa dilema ini ada. Kenapa aku tidak bisa puas dengan apa yang menjadi keinginan yang menurutku penting dan baik.

Sampai akhirnya aku dipertemukan dengan sebuah kalimat dalam sebuah buku Be the best Mom You Can Be, “Pencarian identitas dan makna merupakan hal yang penting dalam pengalaman hidup manusia. Dunia menghargai dan melihat identitas dengan sebaik apa “nilai” kita. Tetapi berhentilah mencari pengakuan dari dunia karena sesungguhnya semua itu hanya sementara dan membuat kita senantiasa merasa tidak puas. Jika kita bisa keluar dari definisi kesuksesan dunia, kita dapat berhenti menjadi begitu cemas dan kita dapat benar-benar menghargai siapa kita untuk keluarga kita.”

Kondisi ini menjadi titik awal bagiku kembali untuk mengkalibrasi setiap keinginan-keinginan hatiku. Tidak mudah untuk tiba-tiba berbalik dari apa yang selama ini telah membentuk alam pikiranku. Tapi menyadari semuanya, aku berjuang dan akan terus berjuang untuk terus fokus kepada sebuah tujuan kekekalan terkhusus buat anak-anak. Sampai akhirnya sebuah kalimat terbersit dalam alam pikiranku “Melepas genggaman akan apa yang selama ini aku anggap penting untuk menggapai apa yang saat ini aku anggap lebih berharga”. Ya, waktu dan masa depan mereka adalah lebih berharga dari apa yang menjadi impian dan keinginan kesuksesanku selama ini. Mereka lebih berharga dari apapun yang pernah kumiliki.

_Life By Love And To Love_
God Bless Us

Selasa, 10 Oktober 2017

Lactacyd Baby, Perlindungan yang Tepat untuk si Kecil Kesayanganku



Yang namanya berkesan pasti selalu diingat. Masih teringat jelas, pertama sekali saya menggunakan produk Lactacyd Baby tepatnya 1 bulan sejak kelahiran anak pertama saya, Bella, tepatnya April 2014. Saat itu kulit anak saya Bella kemerah-merahan di setiap lipatan-lipatan kulit di leher, paha dan juga lengannya. Saat itu, atas saran teman di kantor, saya sempat mencoba sebuah lotion, saya lupa apa merknya, namun bukannya membaik malah kulit bella semakin memerah dan menipis. Akhirnya tetangga saya saat itu menyarankan untuk menggunakan Lactacyd Baby.

Namanya ibu-ibu belum berpengalaman, masih anak pertama, saya takut salah lagi dalam memilih produk yang tepat, dan akhirnya malah semakin berakibat fatal. Akhirnya saya mulai googling, dan akhirnya saya tau bahwa Lactacyd Baby adalah cairan yang berguna untuk membersihkan, merawat, dan menjaga kulit bayi supaya tetap bersih, segar, dan juga lembut. 

Akhirnya saya putuskan untuk langsung melakukan pencarian ke warung terdekat. Kebetulan saat itu tahun 2014 saya berada di salah satu desa kecil, Desa Talawi, Sumatera Barat, sekitar 3-4 jam perjalanan dari kota Padang. Dan bukan sebuah hal yang menakjubkan, jangankan mall, minimarketpun tidak kita temukan di desa ini, namun hanya warung-warung tradisional yang dimiliki warga sekitar.

Sangat saya sayangkan ketika saat itu saya tidak menemukan Lactacyd Baby di desa itu. Sampai akhirnya saya menemukan solusi, kebetulan teman kantor saya ada yang sedang melanjutkan studi di salah satu Universitas Swasta di Kota Padang. Kesempatan emas bagi saya, dan akhirnya saya titip untuk dibelikan, dan 2 (dua) hari berikutnya saya pun mendapatkan Lactacyd Baby.
Mungkin kita penasaran, apa yang kelebihan Lactacyd Baby? Bagi yang sudah menggunakan Lactacyd Baby pasti produk ini sudah dalam bayangan, dan paling tidak dari kemasan Lactacyd Baby, kita dapat mengetahui banyak informasi tentang produk ini.

Lactacyd Baby merupakan brand internasional
Lactacyd Baby merupakan brand internasional yang sudah terpercaya untuk menjaga kulit bayi dari iritasi ringan. Pada kemasannya kita dapat melihat bahwa Lactacyd Baby diproduksi oleh PT Pharma Health Care yang mendpat lisesni dari Sanofi Winthrop Industries Paris.
Apa yang membuat Lactacyd baby internasional? Jika kita telusuri lebih kanjut, Sanofi merupakan satu dari lima perusahaan farmasi terbesar di dunia, setelah Pfizer, Bristol-Myers, Squibb, Novarits, dan GlaxoSmithKline yang berada di paris dan telah Sanofi telah beridir di Indonesia dari tahun 1969, sehingga sudah terpercaya berpuluh-puluh tahun terkhusus di bidang pelayanan kesehatan.

Lactacyd Baby memiliki kandunga alami ekstrak susu
Lactacyd Baby memiliki kandunga alami ekstrak susu yaitu Lactic acid dan lactoserum yang terdapat pada susu. Ternyata Lactic acid dan lactoserum yang terdapat dalam kandungan Lactacyd Baby dapat membersihkan, merawat dan menjaga kulit bayi tetap bersih dari baktri jahat, segar, cerah dan lembut.
Kalau mau memastikan kandungan ini, kita bisa cek juga pada detail kandungan Lactacyd Baby pada setiap kemasan. 

Lactacyd Baby diformulasi dengan pH yang sesuai dengan kebutuhan kulit bayi
Pada kotak kemasannya juga dapat kita lihat bahwa Lactacyd Baby memiliki pH 3-4 yang pastinya sangat baik untuk menjaga keseimbangan pH kulit bayi. Kenapa pH ini menjadi sangat penting? Kita ketahui bahwa pH kulit orang dewasa sangat berbeda dengan pH kulit bayi, yang pastinya mengakibatkan sensitivitas kulit berbeda juga, sehingga kita harus bisa menjaga pH kulit bayi agar tidak mudah terkena iritasi

Lactacyd Baby telah teruji secara dermatologi dan dapat digunakan setiap hari
Pastinya kita akan selalu berhati-hati untuk mendapatkan produk yang benar-benar aman dan teruji yang biasanya terdaftar di badan resmi pemerintahan, sehingga kita tidak perlu kawatir dengan issu-issu kelinci percobaan. Lactacyd baby telah diuji di BPOM dengan NA 18120700295.

Nah, setelah saya memperoleh Lactacyd Baby, saya tidak sabar lagi untuk melihat bagaimana cara penggunaannya ternyata cara pemakaiannya juga gampang, bisa dengan mengencerkan Lactacyd Baby dalam wadah mandi bayi, bisa digunakan seperti memakai sabun cair biasa untuk membersihkan wajah dan perawatan kulit, dan juga bisa digunakan seperti memakai shampoo untuk membersihkan kulit kepala.
Sejak sore itu, saya langsung teteskan Lactacyd Baby ke dalam air mandian Bella. Sehari pemakaian pastinya tidak langsung kelihatan hasilnya, apalagi kondisi kulit Bella sudah sempat semakin buruk karena kesalahan saya menggunakan lotion baby merk tertentu. Namun, satu minggu kemudian, perubahan kulit Bella sudah kelihatan, kulit Bella sudah semakin normal, merah dan ruam pada kulitnya sudah semakin berkurang sampai akhirnya kulit Bella benar-benar  segar, bersih, enak dilihat. Saya benar-benar jatuh cinta dengan Lactacyd Baby, dan akhirnya saya menggunakan Lactacyd Baby setiap Bella Mandi. Karena memang kondisi saya saat itu berada di pelosok, saya selalu titip ke suami 4 kotak setiap suami saya datang ke Talawi, kebetulan saat itu saya dengan suami dalam kondisi LDR (Long Distance Relationship), saya di Talawi-Sumatera Barat, sedangkan suami saya di Jakarta.
18 April 2016 melahirkan anak kedua saya, Feyla. Karena memang sudah jatuh cinta dengan Lactacyd Baby, saya tidak perlui ragu lagi, sehingga sebelum Feyla lahir, saya sudah persiapkan Lactacyd Baby, dan sejak Feyla lahir dan dibawa ke rumah, air mandi Feyla sudah saya campur dengan Lactacyd Baby untuk menjaga kulit Feyla supaya tidak terkena iritasi-iritasi yang pernah dialami kakaknya dulu.
Itulah kenapa saya selalu percaya dan menggunakan Lactacyd Baby, selain kecintaan saya, pastinya juga sebagai ibu yang bijak tau yang terbaik buat anaknya.

Mari menjadi ibu bijak dan penuh cinta dengan perlindungan yang tepat untuk kulit si kecil setiap hari

Sabtu, 23 September 2017

LDR...Susah atau gampang sih?


Sumber gambar : IG Novanardita 

Long Dsitance Relationship tepatnya. Banyak hubungan yang berakhir menyedihkan karena masalah jarak dan tak sedikit juga yang berhasil menghadapi tantangan yang namanya LDR.
Kata pepatah bahwa pengalaman adalah guru yang paling berharga. Thats why...saya mau berbagi bagaimana pengalaman saya menjalani yang namanya LDR baik pada saat berpacaran sampai pada saat kami sudah menikah.

Memutuskan untuk mengaminkan doa dan mengikatkan janji untuk sebuah hubungan yang dipisahkan antar pulau bukanlah hal yang gampang. Saat itu saya berada di pulau Sumatera tepatnya Palembang sementara mantan pacar saya yang sekarang telah menjadi suami saya berada di kota Jakarta.

Memutuskan untuk memulai hubungan berpacaran dulu bukanlah keputusan untuk bersenang-senang atau untuk sebuah status atau apapun itu yang remaja sekarang sebut, tetapi keputusan untuk memulai sebuah masa pengenalan dan pertumbuhan yang lebih sebelum memasuki sebuah bahtera dalam pernikahan.

Banyak tantangan yang kita hadapi selama berpacaran jarak jauh, ketemuan hanya satu kali sebulan, beda dengan orang-orang lain yang setiap malam minggu bisa ketemuan dan jalan bareng. Nah, kalau kita...? hanya bisa ketemuan kalau cuti mantan pacar saya ini di approve, atau ketika saya ada jatah tugas ke jakarta. Pertemuan yang dirasakan pun cukup singkat, paling banyak 3 hari. Coba bayangkan, untuk ketemuan 3 hari saja kita harus korbankan biaya yang bisa dikatakan tidak sedikit dan harus korbankan jatah cuti dari kantor. Wueleh..wueleh..luar biasa yah tantangan jarak jauh ini.
Salah paham dalam komunikasi merupakan tantangan yang paling besar dan paling sering dihadapi. Bahasa SMS menurut saya dan menurut pacar saya, bisa berbeda. Dan tentunya hal-hal seperti ini sangat bisa menimbulkan konflik. Belum lagi gangguan sinyal yang tidak bisa kita prediksi.

“Telp yang sampai hampir 20-kali ga diangkat”
Bayangkan coba, disaat kamu pengen curhat dengan berbagai kepenatan yang kamu alami seharian itu, kamu telp pacar kamu sampai berkali-kali tapi ga diangkat-angkat. Emosi ga? Bisa-bisa makin penat yah? Hahahah. Tergantung orangnya sih. Tapi ternyata ada kondisi yang harus kita pahami, mungkin dia sedang di kamar mandi kebelet sakit perut mungkin. Mungkin dirinya sedang keluar rumah cari cemilan dan lupa bawa HP. Banyak kondisi yang tidak bisa kita lihat dari jauh.

“Curhatan kita yang sudah panjang lebar di telp, rasanya ditanggapin dengan datar”
Hahahahah...itulah jarak jauh, kita tidak bisa melihat tatapan mata pacar kita ketika berkomunikasi, kita tidak bisa melihat ekspresi wajahnya, mungkin dalam ekspresi kata-kata dia bukan orang yang ahli. Perlu pemahaman.

“Godaan untuk tidak setia”
Tantangan yang juga tidak bisa dianggap sepele adalah, lingkungan. Saya seorang karyawati dan aktif dalam sebuah pelayanan alumni mahasiswa dan juga pelayanan guru sekolah minggu yang tentunya sering bertemu dengan cowok-cowok yang memiliki karakter, penampilan yang unik. Demikian juga pacar saya, seorang karyawan dan aktif juga dalam sebuah pelayanan alumni yang tentunya juga sering bertemu dengan wanita cantik, manis, berpenampilan lebih, baik, dan sebagainya. Kalau kata pepatah “rumput tetangga lebih hijau cinnnnn...” hehehehe. Sering bertemu, bercerita, melakukan aktivitas yang sama dalam waktu-waktu yang rutin tidak lah hal yang tidak mungkin bagi kami untuk tidak tergoda bukan, karena kita juga manusia.

Berat sih.. tetapi itulah liku-liku hubungan jarak jauh. Ada yang berhasil, ada yang tidak. Tergantung kita dan pasangan kita. Apa yang mendasari kita mengawali hubungan kita dan apa tujuan kita dulunya ketika kita memulai hubungan itu.
Saya mau berbagi, beberapa hal yang kami lakukan bersama sepanjang menjalani hubungan jarak jauh:


  1. PA Bersama
Hmmmm...kedengaran rohani bangat yah..??? Tapi, itulah yang kami lakukan. Ketemuan hanya satu kali dalam satu bulan, kami akan selalu sempatkan untuk PA bersama, tentunya topik yang kami bahas adalah topik yang relevan dengan masa-masa pacaran. Kami sama-sama meyakini, kedewasaan dan pertumbuhan rohani yang lebih baik akan semakin memampukan kami menghadapi konflik-konflik yang ada. Ga usah serius-serius amat, ambil tempat yang santai aj. Kalau kami dulu, pernah PA di Ancol, Solaria, KFC, Taman dan sebagainya. Intinya bawa santai aj, sembari menikmati alam dan kebersamaan dengan pacar, mari kita nikmati Firman Tuhan.

  1.  Berdoa bersama
Rohani lagi yah...??? hahahah.. tapi, kembali mau saya katakan, kami meyakini bahwa hal-hal seperti ini yang membuat kami kuat dan semakin dimampukan melewati konflik yang ada. Tapi, btw kok bisa yah berdoa bersama? Kan jarak jauh? Bisa dong.. Kita itu sering berdoa lewat telp, pakai headset. Teknis nya bebas, kalau kami sih, terkadang yang pimpin pacar saya, terkadang saya, terkadang saya mulai doa, trus dilanjut dan ditutup sama pacar saya.
  1. Ceritakann
Apa maksudnya ini ceritakan..??? Artinya, katakan semuanya apa yang ada dalam hati kita. “Kita ingin pasangan kita menanyakan apa yang kita rasakan?”, “Kita ingin pasangan kita memberikan hadiah di momen-momen special?”. Katakan semuanya, karena pasangan kita bukanlah peramal atau dukun bahkan Tuhan yang bisa menebak dan mengetahui apa isi hati kita.

  1. Saling percaya
Ini menjadi yang sangat penting dalam menjalani hubungan. Karena ketidakpercayaan terhadap pasangan akan membuat kita sensistif bahkan mudah berpikiran negatif terhadap pasangan. Percaya saja dan doakan bahwa kita adalah satu-satunya wanita/pria di hati pasangan kita.  Ini sangat membantu kita menghadapi isu-isu yang mungkin beredar terkait relasi pasangan kita di lingkungannya supaya tidak memicu konflik dalam hubungan.
 
Ada beberapa orang yang saya kenal yang akhirnya memilih untuk mengakhiri hubungan mereka karena tantangan hubungan jarak jauh. Hidup adalah pilihan, tidak ada yang salah, kita adalah manusia biasa yang juga memiliki pilihan-pilihan dan impian masa depan masing-masing dalam hidup.
Tapi ada baiknya, jika kita dari awal telah meyakini bahwa partner yang saat ini ada dalam hubungan spesial kita adalah pilihan dari Tuhan dan Jawaban dari Tuhan atas doa-doa kita akan kerinduan kita selama ini dalam teman hidup, mari hadapi tantangan itu, wujudkan impianmu bersama Teman Hidup yang telah Tuhan pilihkan bagimu. Jangan biarkan waktu yang kita lewati selama ini bersama dia, menjadi kenangan semata.


_Life by love and to love_
 God Bless

Alumni yang Profesional & Berintegritas

Dua minggu lalu, saya dan suami memutuskan untuk mengikuti sebuah seminar alumni yang diselenggarakan oleh PERKANTAS Jakarta. Tidak kebetu...