Hari
ini pulang kantor seperti biasa saya langsung menuju Duren Kalibata, titik temu
jemputan antara saya dan suami, supaya tidak terlalu jauh mutarnya, mengingat
kota Jakarta terlalu padat dan macet dengan ribuan kendaraan yang ada di
dalamnya.
Namun,
hari ini menjadi hari yang tak biasa, karena biasanya suami yang biasanya lebih
dahulu tiba dibanding saya. Saya kebetulan menunggu di depan warung bakso, di
pinggiran Mall Duren Kalibata, persis di bawah jembatan layang. Saya minta ijin
duduk di salah satu kursi milik bapak tukang bakso.
Sembari
menunggu, saya melayangkan pandangan ke seluruh titik sudut yang bisa dijangkau
oleh pandangan saya saat itu. Dan di sebuah perhentian lampu merah, kebetulan
ada pertigaan, saya melihat dua orang
anak kecil, yang dari satu kendaraan ke kendaraan lain, memukul-mukul sebuah
botol aqua yang berisi pasir dan bebatuan, dengan mulut yang komat kamit. Saya
tidak tahu persis apakah dia bernyanyi atau berpuisi, tapi yang pasti dia
mengharapkan imbalan jasa dari setiap orang yang ada di kendaraan yang mereka
masuki. Dari perawakannya, sepertinya mereka masih berusia 8 – 10 tahun, dengan
tinggi kurang lebih 90-100 cm.
Ntah
kenapa, pandangan saya tidak henti-hentinya mengarah kepada dua anak ini. Hati saya
terenyuh, merasa iba, dan kasihan, tidak seharusnya anak di usia seperti ini dibebankan
untuk mencari uang. Beberapa menit kemudian, karena lampu merah sudah berubah
jadi hijau, kedua anak ini berteduh di bawah pohon kering, yang kebetulan ada
di pertigaan jalan.
Persis
di bawah pohon tempat anak-anak ini berteduh dan bermain sembari menunggu lampu
hijau, terlihat seorang wanita paruh baya, yang sedang asyik dengan handphone
di tangannya. Usianya menurut terawangan saya masih muda, mungkin sekitaran
30-35 tahun. Awalnya saya berpikir kalau wanita ini mungkin orang yang sama
seperti saya, sedang menunggu seseorang atau sedang menunggu angkutan. Namun,
saya terkejut ketika tiba-tiba, karena lampu hijau sudah berubah menjadi lampu
merah, wanita ini memanggil kedua anak tersebut, saya kurang tau persis apa
yang diomongkan mereka, tetapi dari gerak dan arahan tangannya, saya melihat si
wanita sedang mengarahkan si anak (kepada anak yang yang lebih kecil, saya
melihat tangan si ibu menunjuk ke lampu merah, dan kepada anak yang yang lebih
basar, tangan si ibu mengarah ke dekat jembatan). Dan seketika pembicaraan
selesai, kedua anak ini berjalan sesuai dengan arah tangan si ibu menunjuk
ketika mereka berbicara.
Kondisi
ini terjadi berulang, setiap pergantian lampu merah ke hijau, anak-anak kembali
ke bawah pohon, dan setiap pergantian lampu hijau ke merah, wanita itu memberi
arahan. Dan dalam kondisi itu, wanita tersebut hanya asyik memainkan handphone
nya.
Hati
saya langsung terhenyak. “What...???”. Ternyata mereka tidak bekerja dengan
kemauan sendiri tetapi dengan arahan dan pimpinan seorang wanita. Saya tidak
tau persis apakah wanita itu adalah ibu dari anak-anak ini, atau mereka hanya
alat saja.
Mata
saya perih, serasa mau meneteskan air mata, saya alihkan pandangan saya dari
mereka, dan ntah kenapa hati kecil saya tiba-tiba bernyanyi kecil “Ini bukan hukuman, hanya satu isyarat, bahwa
kita mesti banyak berbenah, memang bila kita kaji lebih jauh, dalam kekalutan,
masih banyak tangan yang tega berbuat nista....by Ebiet G Ade”.
Saya
alihkan pandangan saya ke jam tangan yang saya pakai, 16.29 Wib, sudah 20 menit
ternyata saya duduk terdiam di tempat ini. Saya buka tas, dan ambil handphone,
saya pengen memastikan, jangan-jangan suami sudah tiba daritadi tanpa saya
sadari. Ternyata, belum ada message dari suami, saya tekan tombol dan kirim sms
“bunda sudah di depan warung..”. Saya tutup Handphone dan masukkan kembali ke
dalam tas.
Seketika
saya melihat anak yang paling kecil yang saya perhatikan dari tadi ternyata
sedang berada di warung bakso dimana saya duduk menunggu suami saya. Dengan
jelas saya melihat dan mendengar alat musik yang terbuat dari botol aqua yang
berisi pasir dan batu kerikil itu. Dan beberapa menit kemudian, dia menyodorkan
tangan, meminta sekedar seikhlas hati dari orang-orang yang sedang makan bakso
pada saat itu.
Keluar
dari warung, saya memanggil si anak, dan memberikan duit receh yang kebetulan
ada di tangan saya saat itu. Si anak berlari, dan dari jauh saya melihat dia
bercerita dengan kawannya yang satu lagi. Dengan wajah sumringah dia bercerita
dan menunjuk jarinya ke arah tempat saya duduk, seolah-olah dia berkata “saya
dapat duit..darimana?..dari situ nah, dari orang-orang yang duduk di warung
bakso”
Seketika
itu juga..suami saya tiba di tempat saya menunggunya..
Saya
belajar satu hal, betapa polos dan sucinya hati seorang anak yang dianugrahkan
Tuhan ke dalam hidup setiap orang. Betapa polosnya seorang anak melakukan apa
yang diperintahkan kepadanya. Betapa polosnya seorang anak mengungkapkan
kebahagiaannya kepada orang lain. Mari berikan mereka apa yang seharusnya
mereka dapatkan di usia kanak-kanaknya, kasih sayang dan pengayoman dari orangtua
yang mengasihinya.
_Life
by love and to love_
God
Bless us