Rabu, 24 Juni 2015

Dua Anak Kecil Yang Terpaksa Berjuang Untuk Hidup Di Kota Jakarta

Hari ini pulang kantor seperti biasa saya langsung menuju Duren Kalibata, titik temu jemputan antara saya dan suami, supaya tidak terlalu jauh mutarnya, mengingat kota Jakarta terlalu padat dan macet dengan ribuan kendaraan yang ada di dalamnya.

Namun, hari ini menjadi hari yang tak biasa, karena biasanya suami yang biasanya lebih dahulu tiba dibanding saya. Saya kebetulan menunggu di depan warung bakso, di pinggiran Mall Duren Kalibata, persis di bawah jembatan layang. Saya minta ijin duduk di salah satu kursi milik bapak tukang bakso.

Sembari menunggu, saya melayangkan pandangan ke seluruh titik sudut yang bisa dijangkau oleh pandangan saya saat itu. Dan di sebuah perhentian lampu merah, kebetulan ada  pertigaan, saya melihat dua orang anak kecil, yang dari satu kendaraan ke kendaraan lain, memukul-mukul sebuah botol aqua yang berisi pasir dan bebatuan, dengan mulut yang komat kamit. Saya tidak tahu persis apakah dia bernyanyi atau berpuisi, tapi yang pasti dia mengharapkan imbalan jasa dari setiap orang yang ada di kendaraan yang mereka masuki. Dari perawakannya, sepertinya mereka masih berusia 8 – 10 tahun, dengan tinggi kurang lebih 90-100 cm.

Ntah kenapa, pandangan saya tidak henti-hentinya mengarah kepada dua anak ini. Hati saya terenyuh, merasa iba, dan kasihan, tidak seharusnya anak di usia seperti ini dibebankan untuk mencari uang. Beberapa menit kemudian, karena lampu merah sudah berubah jadi hijau, kedua anak ini berteduh di bawah pohon kering, yang kebetulan ada di pertigaan jalan.

Persis di bawah pohon tempat anak-anak ini berteduh dan bermain sembari menunggu lampu hijau, terlihat seorang wanita paruh baya, yang sedang asyik dengan handphone di tangannya. Usianya menurut terawangan saya masih muda, mungkin sekitaran 30-35 tahun. Awalnya saya berpikir kalau wanita ini mungkin orang yang sama seperti saya, sedang menunggu seseorang atau sedang menunggu angkutan. Namun, saya terkejut ketika tiba-tiba, karena lampu hijau sudah berubah menjadi lampu merah, wanita ini memanggil kedua anak tersebut, saya kurang tau persis apa yang diomongkan mereka, tetapi dari gerak dan arahan tangannya, saya melihat si wanita sedang mengarahkan si anak (kepada anak yang yang lebih kecil, saya melihat tangan si ibu menunjuk ke lampu merah, dan kepada anak yang yang lebih basar, tangan si ibu mengarah ke dekat jembatan). Dan seketika pembicaraan selesai, kedua anak ini berjalan sesuai dengan arah tangan si ibu menunjuk ketika mereka berbicara.

Kondisi ini terjadi berulang, setiap pergantian lampu merah ke hijau, anak-anak kembali ke bawah pohon, dan setiap pergantian lampu hijau ke merah, wanita itu memberi arahan. Dan dalam kondisi itu, wanita tersebut hanya asyik memainkan handphone nya.
Hati saya langsung terhenyak. “What...???”. Ternyata mereka tidak bekerja dengan kemauan sendiri tetapi dengan arahan dan pimpinan seorang wanita. Saya tidak tau persis apakah wanita itu adalah ibu dari anak-anak ini, atau mereka hanya alat saja.

Mata saya perih, serasa mau meneteskan air mata, saya alihkan pandangan saya dari mereka, dan ntah kenapa hati kecil saya tiba-tiba bernyanyi kecil “Ini bukan hukuman, hanya satu isyarat, bahwa kita mesti banyak berbenah, memang bila kita kaji lebih jauh, dalam kekalutan, masih banyak tangan yang tega berbuat nista....by Ebiet G Ade”.

Saya alihkan pandangan saya ke jam tangan yang saya pakai, 16.29 Wib, sudah 20 menit ternyata saya duduk terdiam di tempat ini. Saya buka tas, dan ambil handphone, saya pengen memastikan, jangan-jangan suami sudah tiba daritadi tanpa saya sadari. Ternyata, belum ada message dari suami, saya tekan tombol dan kirim sms “bunda sudah di depan warung..”. Saya tutup Handphone dan masukkan kembali ke dalam tas.

Seketika saya melihat anak yang paling kecil yang saya perhatikan dari tadi ternyata sedang berada di warung bakso dimana saya duduk menunggu suami saya. Dengan jelas saya melihat dan mendengar alat musik yang terbuat dari botol aqua yang berisi pasir dan batu kerikil itu. Dan beberapa menit kemudian, dia menyodorkan tangan, meminta sekedar seikhlas hati dari orang-orang yang sedang makan bakso pada saat itu.

Keluar dari warung, saya memanggil si anak, dan memberikan duit receh yang kebetulan ada di tangan saya saat itu. Si anak berlari, dan dari jauh saya melihat dia bercerita dengan kawannya yang satu lagi. Dengan wajah sumringah dia bercerita dan menunjuk jarinya ke arah tempat saya duduk, seolah-olah dia berkata “saya dapat duit..darimana?..dari situ nah, dari orang-orang yang duduk di warung bakso”
Seketika itu juga..suami saya tiba di tempat saya menunggunya..

Saya belajar satu hal, betapa polos dan sucinya hati seorang anak yang dianugrahkan Tuhan ke dalam hidup setiap orang. Betapa polosnya seorang anak melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Betapa polosnya seorang anak mengungkapkan kebahagiaannya kepada orang lain. Mari berikan mereka apa yang seharusnya mereka dapatkan di usia kanak-kanaknya, kasih sayang dan pengayoman dari orangtua yang mengasihinya.


_Life by love and to love_

God Bless us

Alumni yang Profesional & Berintegritas

Dua minggu lalu, saya dan suami memutuskan untuk mengikuti sebuah seminar alumni yang diselenggarakan oleh PERKANTAS Jakarta. Tidak kebetu...