“Melepas genggaman akan apa yang selama ini aku anggap penting untuk
menggapai apa yang saat ini aku anggap lebih berharga”
Kali ini, saya kembali mengangkat kisah pengalaman pribadi.
Setiap orang pastinya pernah mengalami dilema dalam dirinya. Terlepas itu dilema
dalam pekerjaan, keluarga, relasi, lingkungan, atau apapun itu.
Dengan latar belakang didikan dan pengalaman hidup, dibesarkan
dalam sebuah keluarga yang unik, yang
secara alami membentuk kepribadian, secara otomatis aku terbentuk menjadi
pribadi yang menanamkan dalam benak “harus sukses”.
Sejak yang namanya mengecap dunia kerja, tak ada kata yang
tak bisa bagiku, bahkan terkadang ada hal-hal yang sampai aku hiraukan termasuk
juga jam makan, sehingga tak asing lagi ketika penyakit “tifus” kala itu pernah
menjadi sahabat bagiku yang sampai saat ini masih berimbas.
Untuk hal apapun dalam kerja, lembur itu hal biasa bagiku.
Bahkan walaupun sudah lembur, membawa kerjaan ke penginapan, menjadi hal yang
biasa bagiku. Hari sabtu dan minggu bukan menjadi penghalang untuk tetap
bekerja, demi sebuah kata yang namanya “kesuksesan”.
Bagiku, sukses itu harus dan wajib hukumnya, sehingga aku
terus mengejar yang namanya sukses dengan segala upaya yang masih dalam jalur
yang benar.
Seiring perjalanan waktu, yang namanya keinginan untuk
sukses akhirnya sedikit demi sedikit pun bergeser.
Diawali ketika putri pertama yang Tuhan anugrahkan di
tengah-tengah keluarga kecil kami, bagiku jarak jauh dengan suami begitu menyiksa
rasanya. Sehingga dengan segala upaya dan doa kami berharap dan pasrah akan
sebuah keyakinan untuk boleh berada dalam satu atap. Satu prinsi dalam kehidupanku
bergeser akan arti sebuah kesuksesan.
Sampai akhirnya Tuhan menjawab doa kami, dan akhirnya bisa
satu atap, walaupun dari sisi pekerjaan, agak berubah bidang, tapi tidak masalah
bagiku. Karena pikirku, aku bisa belajar untuk meniti langkah awal lagi menuju
kesuksesan kembali setelah bersama dengan suami.
Ternyata apa yang terjadi tidak seindah yang kubayangkan.
Menjadi seorang ibu yang baru, ternyata begitu sulit untuk melepas dan
meninggalkan si buah hati untuk yang namanya sebuah pekerjaan. Namun keinginan
sukses yang telah tertanam hampir 18 tahun perjalanan hidup juga tidak bisa aku
hilangkan. Sepertinya sudah mendarahdaging sebagai akibat bentukan panjang.
Keinginan untuk resign pernah terbersit untuk menjadi ibu rumahtangga penuh waktu, tetapi tak bisa kupungkiri kalau obsesi ku menjadi orang sukses ternyata
lebih besar. Berhubung tidak disetujui oleh pasangan dan keluarga untuk resign,
akhirnya perjalanan berada dalam dunia kerja pun tetap berjalan.
Menjadi working mom akhirnya menjadi sebuah rutinitas yang aku
jalani hari lepas hari. Tapi tak bisa dipungkiri juga, sebagian besar waktu
yang kumiliki adalah untuk pekerjaan. Tak jarang juga, sesekali aku masih bawa
pekerjaan untuk dikerjakan di rumah. Walupun untuk satu hal, aku disiplin untuk
selalu pulang tepat waktu ke rumah. Dan mungkin, selain usaha tetapi berkat Tuhan
juga, penilaian yang selalu aku peroleh setiap semester dalam pekerjaan selalu
memuaskan.
Sampai akhirnya Tuhan anugrahkan kemballi putri kedua di
tengah-tengah kami, gejolak antara keinginan akan sebuah kesuksesan dengan kebutuhan
anak akan kasih sayang semakin terasa.
Selain latarbelakang kelahiran putri kedua yang sangat
bersejarah bagi kami, waktu membawaku kepada sebuah ikatan yang tidak bisa
kuelakkan lagi. Waktu membawaku kepada sebuah kondisi yang harus lekat dengan
anak-anak yang Tuhan anugrahkan. Berpisah beberapa hari dengan mereka bisa
membuatku berurai airmata bahkan sampai sakit.
Sempat terpikir dalam pikiranku, kenapa dilema ini ada. Kenapa aku tidak
bisa puas dengan apa yang menjadi keinginan yang menurutku penting dan baik.
Sampai akhirnya aku dipertemukan dengan sebuah kalimat dalam
sebuah buku Be the best Mom You Can Be, “Pencarian identitas dan makna
merupakan hal yang penting dalam pengalaman hidup manusia. Dunia menghargai dan
melihat identitas dengan sebaik apa “nilai” kita. Tetapi berhentilah mencari
pengakuan dari dunia karena sesungguhnya semua itu hanya sementara dan membuat
kita senantiasa merasa tidak puas. Jika kita bisa keluar dari definisi
kesuksesan dunia, kita dapat berhenti menjadi begitu cemas dan kita dapat
benar-benar menghargai siapa kita untuk keluarga kita.”
Kondisi ini menjadi titik awal bagiku kembali untuk mengkalibrasi
setiap keinginan-keinginan hatiku. Tidak mudah untuk tiba-tiba berbalik dari
apa yang selama ini telah membentuk alam pikiranku. Tapi menyadari semuanya,
aku berjuang dan akan terus berjuang untuk terus fokus kepada sebuah tujuan kekekalan
terkhusus buat anak-anak. Sampai akhirnya sebuah kalimat terbersit dalam alam
pikiranku “Melepas genggaman akan apa yang selama ini aku anggap penting untuk
menggapai apa yang saat ini aku anggap lebih berharga”. Ya, waktu dan masa
depan mereka adalah lebih berharga dari apa yang menjadi impian dan keinginan
kesuksesanku selama ini. Mereka lebih berharga dari apapun yang pernah
kumiliki.
_Life By Love And To Love_
God Bless Us
Tidak ada komentar:
Posting Komentar